Senin, 06 Januari 2014

Pentingnya Membaca dan Memotivasi Diri Siswa



Membaca merupakan satu di antara keterampilan berbahasa. Manfaat dari membaca adalah kita akan memperoleh ilmu pengetahuan yang pastinya ilmu tersebut sangat berguna bagi kita. Sebelum kita mengenal jauh tentang membaca, ada baiknya kita harus mengetahui terlebih dahulu pengertian dari membaca. nah, di sini ada beberapa pengertian membaca menurut para ahli.
Menurut Kamus Besar  Bahasa Indonesia dalam TIM (1995:123) menyatakan bahwa membaca  adalah  melihat serta memahami isi dari yang tertulis, baik dengan melisankan (mengucapkan) maupun hanya dalam hati. Sementara itu Razak,A (1995: 1) menyatakan  membaca merupakan salah satu bentuk kegiatan yang dapat digunakan sebagai sarana untuk memperoleh pemahaman tentang sesuatu. Berdasarkan definisi di atas, kita dapat mengatakan bahwa membaca merupakan suatu proses perubahan bentuk lambang bunyi menjadi wujud makna.
Selanjutnya, Hodgson (1960: 43-44), membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. Suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam suatu pandangan sekilas dan makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui. Kalau hal ini tidak terpenuhi, pesan yang tersurat dan yang tersirat akan tertangkap atau dipahami, dan proses membaca itu tidak terlaksana dengan baik. Kemudian Finochiaro dan Bonomo (1973: 119), membaca adalah memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung di dalam bahasa tertulis.


Dilain pihak, Gorys Keraf (1996: 24), membaca adalah suatu proses yang kompleks meliputi kegiatan yang bersifat fisik dan mental. Membaca juga dapat diartikan sebagai proses pemberian makna simbol-simbol visual. Seiring dengan itu, Fredick Mc Donald (dalam Burns, 1996: 8), membaca adalah merupakan rangkaian yang respon yang kompleks, di antaranya mencakup respon kognitif, sikap dan manipulatif. Membaca tersebut dapat dibagi menjadi beberapa sub keterampilan, yang meliputi sensori, persepsi, sekuensi, pengalaman, berpikir, belajar, asosiasi, afektif, dan konstruktif. Menurutnya, aktivitas membaca dapat terjadi jika beberapa sub keterampilan tersebut dilakukan secara bersam-sama dalam suatu keseluruhan yang terpadu.
            Menurut Tampubalon (1987: 6), mengatakan karena bahasa tulisan mengandung ide-ide atau pikiran-pikiran, maka dalam memahami bahasa tulisan dengan membaca, proses-proses kognitif (penalaran), terutama yang bekerja. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa membaca adalah cara untuk membina daya nalar.  Dalam hal ini, Smith (Ginting, 2005), membaca merupakan suatu proses membangun pemahaman sari teks yang tertulis. Nurhadi (1987: 13-14), membaca adalah proses pengucapan lisan untuk mendapatkan isi yang terkandung di dalamnya. Sedangkan rumit dimaksudkan faktor di atas sering bertautan dan berhubungan, membentuk semacam koordinasi yang rumit untuk menunjang pemahan terhadap bacaan.
Farris (1993: 304), membaca adalah pemrosesan kata-kata, konsep, informasi, dan gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh pengarang yang berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman awal pembaca. Dengan demikian, pemahaman diperoleh bila pembaca mempunyai pengetahuan atau  pengalaman yang telah dimiliki sebelumya dengan apa yang terdapat dalam bacaan.
Kemudian Soedarso (1996: 4), membaca adalah tidak hanya sekedar membunyikan lambang-lambang bunyi bahasa yang tertulis. Membaca adalah aktivitas yang kompleks yang mengarahkan sejumlah besar tindakan yang berbeda-beda.

Melalui proses membaca lambang- lambang  tulisan akan dirubah kedalam bentuk abstrak yakni wujud makna. Maka dengan proses inilah manusia dapat memahami apa yang dia lihat dan dia baca itu. Cara lain dapat juga dipakai -untuk mencapai tingkat pemahaman tentang sesuatu walaupun itu  kurang efektif  jika dibanding dengan membaca. Kita pun mungkin bisa merasakan tidak semua pemahaman tentang sesuatu diperoleh dari kata-kata yang tertulis. Dengan kata lain, pemahaman tentang sesuatu dapat saja diperoleh dari kata-kata lisan atau dari pengamatan objek  yang bersangkutan. Namun demikian pemahaman tentang sesuatu dengan  cara seperti ini tidaklah mencukupi.  Walaupun seseorang telah mencoba meneliti dan menela’ah apa yang dia lihat namun tampa adanya pendukung lain yang sifatnya tertulis sebagai landasan mereka berfikir  maka belumlah merasa puas dengan apa yang dia pahami tersebut. Jadi kegiatan yang sangat penting yang dapat kita gunakan untuk memperileh pemahaman tentang sesuatu secara mendalam adalah Membaca.
            Bila kita rasakan  secara lahiriah kegiatan membaca yang akan kita lakukan membutuhkan pengorbanan tertentu. Setiap kegiatan yang akan kita lakukan untuk memperoleh bahan bacaan (Objek membaca) tentunya harus kita sediakan dan cari. Mungkin terkadang orang melakukan dengan cara membeli, meminjam, ataupun mungkin dengan cara yang tidak etis. Namun demikian itu belumlah seberapa dibanding dengan apa yang didapat  dari kegiatan membaca tersebut. Dilain pihak secara bathiniah banyak pula orang yang mengalami kesulitan dalam memahami apa yang dia baca. Maka di sini mereka membutuhkan pengorbanan secara mental  untuk dapat memahami apa yang dia baca secara bersungguh-sungguh.
         Hal tersebut di atas, belumlah  seberapa  bila dibanding dengan cara pengorbanan lain yang kita lakukan untuk mendapatkan sebuah pengetahuan dari pakar-pakar. Bila kita diminta untuk tatap muka atau kita yang menginginkan imformasi itu, tetapi kita harus dapat menemukan di mana pakar itu berada berapa  biaya yang akan kita keluarkan. Hal ini mungkin akan menambah  beban serta biaya bagi seseorang bila dibandigkan dengan cara membeli bukunya.
Begitu jugalah membaca itu bagi dunia pendidikan, tanpa membaca dunia pendidikan khususnya dan dunia ilmu pengetahuan umumnya akan mati.  Bila kita kaitkan dengan sejarah religius yang pernah kita pelajarari, pertama sekali Rasulullah disuruhkan oleh Allah melaui malaikat Jibril.a.s  adalah untuk membaca Iqra’( membaca)  Demi TuhanMU.  Jadi sejak dahulu alam ini ada sampai kepada saat ini kegiatan membaca ini tidak dapat kita abaikan begitu saja.
            Membaca memang memegang peranan penting dalam sesmua sisi dalam kehidupan ini.  Apa lagi   bila kita kaitkan dengan kegiatan  pengajaran  pada tingkat pendidikan, mulai dari Pendidikan Dasar sampai ke Perguruan Tinggi. Program pengajaran akan mengalami kemacetan total jika para guru tidak melibatkan kegiatan membaca. Sadarkah kita bahwa proses kegiatan membaca itu  sangat penting dalam segala hal.  Apakah lagi   dalam proses belajar di sekolah.  Bila kita  nalar lebih jauh lagi, membaca  diibaratkan udara dalam kehidupan manusia.  Kita tak menyadari betapa pentingnya udara dalam peredaran nafas manusia. Andaikan udara itu tidak lagi ada apa yang terjadi dengan manusia? Tentunya  manusia akan mati atau tidak bisa hidup.

            Membaca menjadi senakin penting lagi bagi dunia pendidikan di Perguruan Tinggi. Para pakar membaca berpendapat  seluruh materi  Perguruan Tinggi  bersumber dari membaca sekitar 85%. Selebihnya 15 %  lagi bersumber dari kegiatan lain seperti kuliah dan diskusi (Razak,1995:3). Hal ini berarti kegiatan membaca sangat tinggi menentukan keberhasilan belajar di Perguruan Tinggi. Jadi setiap mahasiswa harus mampu memahami berbagai bahan bacaan yang ada seputar  ilmu yang digalinya. Beberapa hasil penelitian orang kulit  putih di Indonesia, pemahaman seseorang akan ditentukan oleh tiga faktor yakni, 1) kuantitas baca, 2) Intelegensi, 3) penunjang (Razak,1995: 4).
            Kuantitas baca merupakan  keadaan di mana seseorang mampu untuk melakukan kegiatan membaca secara maksimal. Sehinggka kuantitas baca ini lebih identik dengan  jumlah waktu yang tersedia bagi seseorang untuk membaca.
            Intelegensi  merupakan tingkat kemampuan seseorang untuk dapat menelaah bacaan, atau lebih dikenal dengan kenormalan kemampuan berfikir. Intelegensi cukup berperan dalam keberhasilan seseorang dalam membaca, walaupun tidak mutlak adanya. menurut Harris (1970), bahwa faktor terpenting dalam masalah kesiapan membaca yaitu intelegensi umum.
Membaca sebagai proses sensoris mengandung pengertian bahwa kegiatan membaca itu dimulai dengan melihat. Stimulus masuk lewat indra penglihatan mata. Setelah dilakukan pemaknaan atau pengucapan terhadapnya.
            Penunjang ( Sikap baca)  adalah segala sesuatu yang menyangku tentang pengetahuan, kesenangan, dan prilaku seseorang dalam membaca. Sikap baca ini terbagi atas tiga bahagian: 1) Sikap baca Kognitif adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang pengetahuan seseorang tentang dalil dan teori membaca. 2) Sikap afektif adalah   yang menyangkut tentang perasaan seseorang dalam melakukan kegiatan membaca. 2) Sikap Konasi  adalah kegiatan  atau prilaku
yang dilaksanakan seseorang dalam membaca dan memilih bahan bacaan, membaca koran, majalah, buku ilmiah atau sastra.