Minggu, 09 November 2014

HUBUNGAN ILMU, FILSAFAT DAN AGAMA


A.      Pengantar

Ilmu pengetahuan merupakan implementasi dari pengetahuan yang didasarkan atas rasio dan kaidah-kaidah yang ada. Dengan ilmu pengetahuan kita dapat mengetahui sesuatu dengan lebih jelas lagi. Bahkan dengan ilmu pengetahuan manusia memenuhi kodratnya yaitu menjadi khalifah di bumi. Karena dengan ilmu pengetahuanlah, manusia dapat memanfaatkan semua fasilitas yang ada di bumi ini dengan sabaik-baiknya, tanpa mengadakan perusakan.

Sedangkan filsafat merupakan ilmu atau kajian yang membahas mengenai hakekat dari segala sesuatu, asal mula sesuatu tersebut. Pada dasarnya filsafat merupakan dasar atau induk dari segala ilmu. Sebuah ilmu yang akan dihasilkan biasanya dibicarakan terlebih dahulu dalam dunia atau kajian filsafat. Filsafat mencoba membuat jawaban atas segala sesuatu secara mendasar. Pada dasarnya filsafat adalah ilmu berpikir yang memenuhi syarat-syarat tertentu.

Sedangkan agama merupakan wahyu atau ajaran Tuhan. Agama mencoba menjawab persoalan yang tidak dapat dipecahkan dengan akal pikiran manusia. Ketika filsafat dan ilmu pengetahuan tidak bisa menjawab sebuah masalah, maka agamalah yang kemudian menjawabnya.

Ketiga hal tesebut mempunyai hubungan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan. Hubungan yang terjadi antara ketiganya dapat berupa hubungan searah maupun dua arah. Hubungan yang terjadi antara ketiga aspek tersebut bukanlah hubungan yang dapat dinilai atau dilihat hanya dalam sekali memandang saja maupun sekali belajar saja. Akan tetapi hubungan antara ketiganya ini dapat dilihat dengan jelas sekali. Bahkan dapat dikatakan hubungan antara ketiganya tersebut merupakan hubungan yang sangat penting dan perlu dikaji lebih mendalam secara filosofis, dan perlu ditinjau dari segi pandangan islam.

Maka dari itu kami di sini mencoba untuk membahas hubungan dari ketiga hal tesebut dengan mengacu pada referensi yang ada dan dengan pengetahuan yang kami miliki baik melalui penafsiran terhadap ayat maupun yang lainnya.

B.     Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan metodis, pendekatan yang digunakan adalah empiris-terikat dimensi ruang dan waktu serta berdasarkan kemampuan panca indra manusia, rasional dan umum.

Ilmu pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah selesai dipikirkan. Ia merupakan suatu hal yang tidak mutlak. Kebenaran yang dihasilkan ilmu pengetahuan bersifat relatif (nisbi), positif dan terbatas. Hal ini disebabkan ilmu pengetahuan tidak mempunyai alat lain dalam menguak rahasia alam kecuali indra dan kecerdasan (otak).

Tiap cabang ilmu menghadapi soal-soal yang tidak dapat dipecahkan oleh cabang ilmu itu sendiri. Ia membutuhkan campur tangan ilmu-ilmu yang lain. Misalnya pembahasan fiqih tidak bisa terlepas dari pembahasan sosiologi, psikologi, statistik dan lain-lain. Ilmu pengetahuan adalah teka-teki yang apabila suatu persoalan telah diselesaikan, maka timbullah soal-soal lain dari penyelesaian tersebut. Ilmu pengetahuan tidak mampu menjawab pertanyaan mengenai inti atau hakekat sesuatu secara mendalam. Ia tidak mampu megobati kerinduan dan kehausan manusia terhadap cinta mutlak dan abadi. Sebagian pertanyaan-pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh ilmu pengetahuan itu akan dijawab oleh filsafat sebagai ilmu universal.

Menurut pandangan islam ilmu pengetahuan berasal dari Allah Yang Maha Tahu. Ia menurunkan ayatnya yang berupa ayat kauniyah dan qauliyah(qur’aniyah). Setelah manusia mengetahui mengenai dua ayat tadi yaitu ayat kauniyah dan ayat qur’aniyah, maka manusia menginterpretasikannya, selanjutnya lahirlah ilmu pengetahuan, perintah agar manusia menginterpretasikan ayat-ayat tersebut terdapat dalam surah al alaq ayat 1-5. dan juga tafsir surah ali imran ayat 190-191. hasil dari interpretasi tersebut berupa ilmu pengetahuan.

Hasil dari interpretasi alam atau ayat kauniyah melahirkan ilmu botani, geologi, biologi, fisika, astronomi, kimia, geografi, antropologi, sedangkan ayat kauniyah yang berupa manusia melahirkan ilmu psikologi, sosiologi politik.

Hasil interpretasi dari ayat quraniyah dalam alqur’an dan hadist menghasilkan ilmu seperti ilmu fiqih, tasawuf, tafsir, ulumul hadist, tauhid, ushul fiqh. Demikianlah ilmu pengetahuan menurut pandangan islam dan ilmu ini akan berhungan dengan filsafat dan juga agama.

C.    Filsafat

Filsafat ini akan mengajari manusia untuk menjadi manusia yang sebenarnya, yaitu manusia yang mengikuti kebenaran, mempunyai ketenangan pikiran, kepuasan, kemantapan hati, kesadaran akan arti dan tujuan hidup, gairah rohani dan keinsafan, kemudian mengaplikasikannya dalam bentuk topangan atas dunia baru, menuntun kepadanya, mengabdi kepada cinta mulia kemanusiaan, berjiwa dan bersemangat universal dan sebagainya.

Pada dasarnya filsafat merupakan cara berpikir yang sistematis, koheren, sinoptik, konsepsional, rasional dan mengarah pada pandangan dunia. Filsafat merupakan berpikir tentang hakekat dari segala sesuatu. Baik dari segi ontologinya, epistemologinya, dan aksiologinya.

Adapun alat yang dipergunakan filsafat adalah akal yang merupakan satu bagian dari rohani manusia. Keseluruhan rohani-perasaan, akal, intuisi, pikiran dan naluri atau seluruh kedirian manusia tentunya lebih ampuh dan manjur daripada sebagian dari padanya. Sedangkan keseluruhan rohani itu sendiri merupakan bagian dari manusia. Manusia merupakan makhluk yang tidak sempurna. Sebuah intuisi yang tidak sempurna tidak dapat mencapai kebenaran yang sempurna, kecuali apabila mendapat uluran tangan dari Yang Maha Sempurna. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa kebenaran ilmu pengetahuan dapat bersifat positif dan relatif karena bersandar pada kemampuan manusia semata, kebenaran filsafat juga kebenaran relatif, alternatif dan spekulatif, karena ia bersandar pada kemampuan akal juga. Tak ada satupun jawaban filsafat yang mutlak sempurna.

Jika suatu masalah tidak terjawab dengan ilmu pengetahuan dan filsafatpun terdiam atau memberikan jawaban dugaan, spekulasi, terkaan, sangkaan, dan perkiraan, maka manusia berada dalam kebingungan. Sebagian mereka mengambil jawaban dari instansi yang dipercayai lebih tinggi daripada ilmu pengetahuan dan filsafat dan lebih menentramkan jiwa yaitu agama. Orang yang berpikir bebas tentang ketuhanan mengambil beberapa jalan, yaitu: anti Theis (mengakui Tuhan tapi ingkar), Atheisme (tidak mengakui adanya Tuhan), non theis(tidak ambil pusing tentang ada dan tidaknya Tuhan) dan Theis ( mengakui adanya Tuhan tapi belum tentu beragama).

Dalam filsafat juga dibicarakan yaitu hakekat Tuhan atau pencipta, dalam kajiannya pencipta dapat dicari dengan menggunakan akal semata tanpa bantuan wahyu. Bahkan ibn Tufail mengatakan penemuan Tuhan dengan akal dan dengan wahyu tersebut hasilnya sama saja. Hal ini mengindikasikan bahwa wahyu fungsinya memperkuat penemuan akal.

D.    Agama

Sesuatu yang berkaitan dengan agama menjadi persoalan yang sarat emosi, subyektivitas, kecenderungan dan kadang sifat tidak mengenal tawar menawar. Realitas ini dikatakan konsepsi tentang agama menyangkut kepentingan agama tersebut, keyakinan dan perasaan.Agama berasal dari bahasa sanskerta yaitu a dan gam yaitu tidak pergi, sedangkan dalam bahasa arab yaitu din dan dalam bahasa latin yaitu relegere yang berarti undang-undang.

Agama adalah sesuatu yang berasal dari Tuhan, berupa ajaran tentang ketentuan, kepercayaan, kepasrahan dan pengamalan, yang diberikan kepada makhluk yang berakal demi keselamatan dan kesejahteraanya di dunia dan akherat. Agama merupakan kebenaran mutlak karena bersumber dari Tuhan.

 tentang realitas kosmis kemudian mengolah dan merubah sebatas kemampuan, serta menjelajahi dunia rohaniah. Pemahaman dan penyelidikan akal terbatas pada dunia yang tampak dan hasilnya tidak sanggup memberikan kepastian. Karena itu manusia harus berhenti dari aktifitas akalnya, ketika akal telah sampai pada batas kulminasinya dan berpindah pada keimanan ketika berbicara tentang Tuhan, akherat dan sesuatu yang berada diluar kemampuan akal. Akal memberikan kebebasan kepada manusia untuk percaya dan tidak percaya tentang wujud Tuhan. Tapi agama dan perasaan mewajibkan untuk percaya bahwa Tuhan itu ada. Tuhan tidak dapat digapai oleh rasio manusia. Meskipun manusia berpikir tentang Tuhan dengan filsafat, tapi pada akhirnya harus mengakui adanya Tuhan dengan firmanNya. Jadi bisa dikatakan bahwa agama memiliki kebenaran yang mutlak.

Tuhan menciptakan manusia dengan keterbatasan akalnya, bukan berarti Tuhan mencelakakan, membingungkan atau menyengsarakan manusia, tapi justru dengan adanya keterbatasan itu akan menunjukkan adanya Yang Maha Sempurna. Tuhan memberikan jalan kebebasan terhadap kebingungan dan problematika manusia yang tidak bisa terselesaikan.

Allah berkenan menurunkan wahyuNya kepada umat manusia sebagai petunjuk, cahaya, dan rahmat, agar mereka menemukan kebenaran yang hakiki dan asasi yang tidak dapat dicapai sekedar dengan akalnya. Juga agar manusia mendapat jawaban yang pasti atas persoalan-persoalan yang tidak dapat dipecahkan oleh ilmu pengetahuan dan filsafat.

Berulangkali allah berfirman bahwa Dialah Yang Maha Benar dan sumber segala kebenaran. Al Qur’an yang merupakan firmanNya adalah kitab kebenaran, diturunkan sebagai petunjuk, rahmat dan cahaya bagi semesta alam. Disamping itu Allah juga menegaskan bahwa islam adalah agama yang benar. Dengan ajaran islam yang tertuang dalam al Qur’an, Allah memutuskan berbagai problema asasi yang tidak dapat dipecahkan dengan akal manusia.