Senin, 07 Maret 2016

Kajian Tindak Tutur

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah

Tindak tutur (speech art) merupakan unsur pragmatik yang melibatkan pembicara, pendengar atau penulis pembaca serta yang dibicarakan. Dalam penerapannya, tindak tutur digunakan oleh beberapa disiplin ilmu. Seorang kritikus sastra mempertimbangkan teori tindak tutur untuk menjelaskan teks yang halus (sulit) atau untuk memahami alam genre (jenis) sastra, para antropolog akan berkepentingan dengan teori tindak tutur ini dapat mempertimbangkan mantra magis dan ritual, para filsuf melihat juga adanya aplikasi potensial diantara berbagai hal, misalnya status pernyataan etis, sedangkan linguis (ahli bahasa) melihat gagasan teori tindak tutur sebagai  teori  yang  dapat  diterapkan  pada  berbagai  masalah  di  dalam  kalimat (sintaksis), semantik, pembelajar bahasa kedua, dan yang lainnya. Dalam linguistik, pragmatik   tindak   tutur   tetap   merupakan   praduga   dengan   implikatur   khusus. (Setiawan, 2005 : 16)
Dilihat dari sudut penutur, maka bahasa itu berfungsi personal atau pribadi (fungsi emotif). Maksudnya, si penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya. Si penutur bukan hanya mengungkapkan emosi lewat bahasa, tetapi juga memperlihatkan emosi itu sewaktu menyampaikan tuturannya. Dalam hal ini, pihak si pendengar juga dapat menduga apakah si penutur sedih, marah atau gembira (Chaer, 2004 : 15). Dilihat dari segi pendengar atau lawan bicara, maka bahasa itu berfungsi direktif, yaitu mengatur tingkah laku pendengar. Dalam hal ini, bahasa itu tidak hanya membuat pendengar melakukan sesuatu, tetapi melakukan kegiatan sesuai dengan yang diinginkan oleh si pembicara. Hal ini dapat dilakukan si penutur dengan menggunakan  kalimat-kalimat  yang  menyatakan  perintah,  himbauan,  permintaan, maupun rayuan (Chaer, 2004 : 15-16).
Jika dikaitkan antara penutur dan lawan bicara akan terbentuk suatu tindak tutur dan peristiwa tutur. Peristiwa tutur ini pada dasarnya merupakan rangkaian dari sejumlah tindak tutur yang terorganisasikan untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan tersebut merupakan isi pembicaraan.
Menurut J.L. Austin (dalam A. H. Hasan Lubis, 1991: 9), secara analitis tindak tutur dapat dipisahkan menjadi 3 macam bentuk, antara lain: (1) Tindak lokusi (lecutionary act), yaitu kaitan suatu topik dengan satu keterangan dalam suatu ungkapan, serupa dengan hubungan pokok’ dengan predikat’ atau topik’ dan penjelasan dalam sintaksis. (2) Tindak ilokusi (illecitionary act), yaitu pengucapan suatu   pernyataan, tawaran, janji pertanyaan dan sebagainya. Tindak ilokusi yang terjadi dalam film Perempuan Punya Cerita adalah suatu bentuk pemahaman lebih lanjut dari para pemeran pada saat berkomunikasi sesuai dengan jalan cerita yang akan dijalankan. (3) Tindak perlokusi (perlocutionary act), yaitu hasil atau efek yang ditimbulkan oleh ungkapan itu pada pendengar, sesuai dengan situasi dan kondisi pengucapan kalimat itu. Tindak perlokusi yang terjadi dalam tindak tutur  merupakan suatu bentuk tanggapan langsung terhadap setiap pernyataan yang diujarkan oleh para  partisipan. Anggapan tersebut tidak hanya berbentuk kata-kata tetapi juga berbentuk tindakan atau perbuatan. Efek atau daya pengaruh ini dapat secara sengaja atau tidak sengaja dikreasikan oleh penuturnya.
Dalam analisis wacana yang berkenaan dengan analisis pragmatik, maka peneliti berhubungan dengan apa yang dilakukan oleh si pemakai bahasa dan menerangkan ciri-ciri linguistik yang ada di dalamnya. Berdasarkan keterangan tersebut maka yang dimaksud dengan pragmatik, yaitu penganalisisan studi bahasa dengan pertimbangan-pertimbangan konteks.
Dalam hal ini, pragmatik sangat erat sekali hubungannya dengan tindak tutur atau Speech Act. George (dalam Tarigan, 1990: 32) menyatakan bahwa pragmatik dapat menelaah keseluruhan prilaku dan, terutama sekali dalam hubungannya dengan tanda-tanda dan lambang-lambang. Pragmatik memusatkan perhatian pada cara insan berprilaku dalam keseluruhan situasi pemberian tanda dan penerimaan tanda.

 B.     Ruang Lingkup Pembahasan
     Ruang lingkup pembahasan dalam makalah ini adalah  segala karakteristik dan jenis-jenis tindak tutur dan prosedur.
C.    Tujuan Penulisan
     Makalah ini ditulis untuk mengetahui dan membahas segala bentuk karakteristik dan jenis-jenis  tindak bertutur. Sebagai tugas dalam mata kuliah kajian tindak tutur. Pada jurusan pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (S2).


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Tindak Tutur
Pembedaan-pembedaan yang dibuat oleh Austin, Searle dan lain-lainya dalam mengklasifikasi tindak tutur akan sangat berguna bila kita mengkaji verba tindak tutur. Pernyataan ini didasarkan atas fakta bahwa sebetulnya filsuf-filsuf tindak tutur cenderung memusatkan perhatian mereka pada makna verba tindak tutur, walaupun kelihatannya mereka seakan-akan mengkaji tindak tutur. Tambahan lagi, tanpa bersikap terlalu teoretis (doktriner) dapat diasumsikan bahwa ada kemungkinan terdapat kesamaan antara berbagai perbedaan yang penting bagi analisis verba tindak tutur dengan berbagai perbedaan yang penting untuk perilaku tindak tutur yang diperikan oleh verba-verba tindak tutur.
Sebaliknya, kita akan sangat anti-Worf bila kita mengansumsikan bahwa verba-verba yang disediakan oleh bahasa untuk membahas perilaku komunikatif mengandung perbedaan-perbedaan yang tidak signifikan buat perilaku sendiri; dan asumsi ini juga tidak didukung oleh teori fungsional. Tetapi ada satu perbedaan besar antara pembicaraan tentang tindak tutur dengan pembicaraan tentang verba tindak tutur, yaitu perbedaan-perbedaan yang ada pada tindak tutur bersifat nonkategorikal, sedangkan pada verba tindak tutur perbedaannya bersifat kategorikal. Searle (1979: 2) mengatakan bahwa ‘perbedaan-perbedaan di antara verba-verba ilokus merupakan petunjuk yang baik tetapi sama sekali bukan petunjuk yang pasti akan mengetahui perbedaan-perbedaan yang ada antara tindak-tindak ilokus’. Perbedaan yang lain adalah bila kita membahas verba tindak tutur, kita harus membatasi diri pada verba-verba tertentu dalam bahasa-bahasa tertentu.
Tindak tutur yang pertama-tama dikemukakan oleh Austin (1956) yang merupakan teori yang dihasilkan dari studinya dan kemudian dibukukan oleh J.O. Urmson (1965) dengan judul How to Do Thing with Words? Kemudian teori ini dikembangkan oleh Searle (1969) dengan menerbitkan sebuah buku Speech Acts: An Essay in the Philosophy of Language. Ia berpendapat bahwa komunikasi bukan sekadar lambang, kata atau kalimat, tetapi akan lebih tepat apabila disebut produk atau ahsil dari lambang, kata atau kalimat yang  berwujud perilaku tindak tutur (teh performance of speech acts). Leech (1994: 4) menyatakan bahwa sebenarnya dalam tindak tutur mempertimbangkan lima aspek situasi tutur yang mencakup: penutur dan mitra tutur, konteks tuturan, tujuan tuturan, tindak tutur sebagai sebuah tindakan/aktivitas dan tuturan sbg produk tindak verbal.
Tindak tutur atau tindak ujar (speech act) merupakan entitas yang bersifat sentral dalam pragmatik sehingga bersifat pokok di dalam pragmatik. Tindak tutur merupakan dasar bagi nanalisis topik-topik pragmatik lain seperti praanggapan, perikutan, implikatur percakapan, prinsip kerja sama, dan prinsip kesantunan. Kajian pragmatik yang tidak mendasarkan analisisnya pada tindak tutur bukanlah kajian pragmatik dlm arti yang sebenarnya (Rustono, 1999: 33).
Chaer (Rohmadi, 2004: 29) tindak tutur merupakan gejala individual yang bersifat psikologis dan keberlangsungan ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur dalam menghadapi situasi tertentu. Dalam tndak tutur lebih dilihat pd makna atau arti tindakan dlm tuturannya. Suwito dalam bukunya Sosiolinguistik: Teori dan Problem mengemukakan jika peristiwa tutur (speech event) merupakan gejala sosial dan terdapat interaksi antara penutur dalam situasi dan tempat tertentu, maka tindak tutur lebih cenderung sebagai gejala individual, bersifat psikologis dan ditentukanm oleh kemampuan bahasa penutur dalam menghadapi situasi tertentu. Jika dalam peristiwa tutur orang menitikberatkan pada tujuan peritiwa, maka dalam tindak tutur orang lebih memperhatikan makna atau arti tindak dalam tuturan itu (Rohmadi, 2004: 30). Jadi dapat disimpulkan bahwa tindak tutur merupakan suatu ujaran yang mengandung tindakan sebagai suatu fungsional dlm komunikasi yang mempertimbangkan aspek situasi tutur.
B.     Karakteristik Tindak Tutur 
Bagian universal teori tindak tutur berhubungan dengan topic-topik sebagai  berikut:
1)      Struktur umum tindak tutur
Diterima secara luas bahwa setiap tindak tutur bias dikarakteristik menurut isi dan proposisinya ( propositional content) dan kekuatan ilokusinya (illocutionary point). Tetapi isi proposisi itu secara umum tidak bias diidentifikasi dengan proposisi. Tetapi tipe isi proposisi san tipe kekuatan ilokusi tindak tutur berkaitan secara intrinsic. Asumsinya adalah isi proposisi tindak tutur bias dinyatakan secara eksplisit dengan kalimat komplemen ( complement sentence ) dari bentuk tak langsung ( reported form ) tindak tutur itu.oleh karena itu strategi metodologis primer untuk menyusun tipe ini proposisi itu adalah dengan melihat contoh-contoh tuturan tak langsung ( reported speech ).`
Sebahagian tipe isi proposisi yang relevan bias diilustrasikan  dengan table berikut :
Tipe tindak tutur
Kalimat komplemen tak langsung
Designation kalimat komplement
Denotasi tersebut
Represemntatif  (pernyataan )
Bahwa Paul  datang
proposisi
Nilai kebenaran
Direktif ( permintaan )
datang
Konsep predikat
Karakteristik individual
Erotetik ( pertanyaan)
Apakah Paul datang
Konsep proposisi
Karakteristik proposisi

Siapa datang
Proposisi tak terbatas waktu
Karakteristik denotasi istilah

Ketika Paul datang
Proposisi terbuka tenses
Karakteristik waktu hari

Kebanyakan kekuatan ilokusi secara umum bias dipandang sebagai fungsi hasi karakteristik. Strategi teoritis ini juga sesuai dengan penggunaan pernyataan perancangan tindak tutur. Apabila seseorang telah memerintahkan sesuatu, kita mengatakan bahwa terdapat perintah yang diharapkan seseorang  yang harus dipenuhi dalam tindakan yang akan dating. Di sini kita mebgubah penggunaan kata  “ perintah “  dari perspektif tindakan kea rah  perspektif  hasil. Tujuan tindak tutur perintah itu adalah menyatakan perintah.

                  Kalau konsep utama dalam berhubungan dengan isi proposisi adalah kebenaran, konsep yang sesuai dengan hasil ilokusi adalah kepuasan.  Misalnya, sebuah perintah dikatakan harsu dipuaskan apabila mitra tutur ( pesapa ) yang bersangkutan melakukan tindakan yang diperintahkan tersebut, yaitu apabila dia berprilaku sedemikian rupa sehingga karakteristik  yang dinyatakan oleh kalimat complement tuturan tak langsung menjadi benar bagi dirinya. Apabila isi proposisi identik dengan proposisinya, maka kebenaran dan kepuasan bias sesuai / konsiden. Tetapi, apabila tak sesuai, maka isi proposisinya menyampaikan pandanan relevan yang bias menentukan kepuasan itu. Cirri ini mengkarakterisasi hubungan intrinsic isi proposisi dan kekuatan ilokusi. Secara   incidental, terdapat varian konsep kepuasan mengeni situasi mental yang berhubungan dengan tindak tutur.
2)      Struktur umum urutan tindak tutur.
Tidak ada tindak tutur yang dilaksanakan secara terpisah. Begitu pula, tidak ada   tidak tutur yang mengikuti satu sama lain dalam urutan yang arbitrer. Pada umumnya benar bahwa tindak tutur diorganisir dalam pola wacana dengan variable tertentu. Ciri ini direfleksikan dalam tindak tutur. Misalnya, pertanyaan adalah sesuatu yang menghendaki jawaban, usulan menghendaki pertimbangan, dan permintaan maaf menghendaki pengakuan.
Konsep yang paling penting untuk berhubungan dengan urutan tindak tutur adalah sebagai berikut: giliran, gerakan, pola tindak tutr, tipe unit dan wacana tutur yang kompleks.  Ketika seorang partisipan berbicara atau membuat kontribusi dalam percakapan dikatakan” Dia” mengambil giliran (turn). Giliran bias terdiri dari ujaran minim yang tidak menyusun tindak tutur  penuh tetapi bias juga mengandung serangkaian tindak tutur. Setiap giliran mencakup tempat-tempat di mana penutur lain bias memulai berbicara.
Konsep  gerakan ( move ) digunakan untuk  mengkarakterisasi fungsi tindak tutur untuk meneruskan wacana. Orang bias membedakan antara memulai (initiating), bereaksi ( reacting ), dan melanjutkan ( continuing ) tindakan.  Marilah kita lihat contoh dialog berikut:

a)      A: Dingin sekali di sini.
b)      B: Ah, masa?
c)      A: Benar, bagaimana kalau kita pindah ke tempat lain?
Pernyataan A dalam  a) berfungsi untuk memulai sebuah tema, pernyataan B dalam b) menunjukan reaksi terhadap pernyataan itu, sedangkan  giliran A dalam c) terdiri dari konfirmasi pernyataan tema a).  Tindak reaksi bias bersifat menerima topic, menolak topic, netral, yaitu menginggalkan pilihan.
Dalam hubungannya dengan konsep kepuasan belumlah jelas apakah konsep ini bias diarahkan, dan dalam cara apa, kepada tindak tutur yang berfungsi sebagai gerakan reaksi.  Hal ini benar sebab tindak tutur jenis ini tidak menuntut hasil yang harsu dipuaskan di masa dating tetapi tindak tutur jenis ini memuaskan sesuatu.
Pola tindak tutur merupakan ujaran tindak tutur yang tertata secara konvensional. Kedudukan tindak tutur ini harus dipenuhi dalam tindak tutur tertentu yang secara umum harus dilakukan secara bergantin oleh partisipan waca itu. Apabila seseorang penutur memulai dengan tindak tutur yang menjadi bagian pola tertentu maka diharapkan mitratutur yang diajak berbicara juga mengacu pada pola ini, termasuk kalau dia menginterupsi dengan pertanyaan.
Pola tindak tutur yang penting adalah pasanga berurutan (adjacency pairs) dalam pengertian yang dikemukan oleh Jefferson, seperti  Tanya jawab, usulan pertimbangan, pembukaan penutup percakapan.  Tetapi  seringkali juga terdapat pola tiga tempat. Misalnya, prosedur minimal pemahaman terdiri dari ujaran referensi, konfirmasi, dan rekonfirmasi. Kita  baca contoh berikut:


a)      A: kuliahnya diadakan di ruang  08.
b)      B: Ah, di ruang 08.
c)      A: Benar, di ruang 08.
Pertanyaan terima kasih juga terdiri dari tindakan referensi, ucapan terima kasih, dan pengakuan.
a)      A: menyampaikan bingkisan pada B: ini hadiahnya.
b)      B: terima kasih banyak.
c)      C: kembali
      Contoh pertama itu bias merupakan cikal bakal pola tindak tutur universal, sedangkan contoh ke dua dibatasi pada lingkungan kebudayaan tertentu. Pola tindak tutur diteruma secara universal bias diprediksi dengan teori interaksi umum.  Pola yang dibatasi oleh budaya hanya dapat ditemukan melalui pengkajian fenomena wacana tersebut secara real,  tetapi hanya peneliti lintas budayalah yang dapat menunjukan kepada kita sejauh mana pola itu terdistribusikan dalam berbagai masyarakat bahasa.
         Unit tutur yang kompleks bias terdiri dari beberapa tindak tutur yang disampaikan oleh seseorang partisipan. Dia melakukan beberapa tahap secara urut, tetapi masing-masing ditentukan oleh pesapa apakah urutan itu diperbesar atau diciutkan.  Unit tutur kompleks yang umum dalah narasi, argumentasi, dan deskripsi.  Pada umumnya  unit-unit seperti mempunyai pembukaan , isi yang bervariasi, dan penutup. Tidak ada salah satunya yang bias bisa dibuang.
3)      Dampak instutisional umum pada tindak tutur dan urutan tindak tutur.
Kita bias membedakan tindak tutur primer atau tindak tutur natural, yang diperlukan untuk setiap jenis interaksi manusia, dan tindak tutur sekunder atau institusional, yang khas untuk institusi tertentu.  Yang dimaksud institusi adalah system kehidupan social yang terorganisir yang berasal dari pembagian kerja secara social dan ditentukan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dalam masyarakat.  Contohnya institusi sekolah, pengadilan, perdebatan politik dan propaganda komersial.
Institusi  bias memiliki berbagai dampak dalam pengembangan aktifitas tutur:
(a)    Insitusi  bias menciptakan jenis tindak tutur baru, yang kebanyakan  merupakan deklarasi atau tindak tutur  berupa pemenuhan kepuasan, seperti pembuatan keputusan, penunjukan pembukaan sebuah peristiwa, penyegaran rohani.
(b)   Insttusi bias memodifikasi tindak tutur primer. Misalnya kita memiliki rentangan  berbagai jenis pertanyaan dan perintah seperti pertanyaan ujian, pertanyaan interogasi, pertanyaan tes, atau pertanyaan pengawasan, pengarahan dan lainnya.
(c)    Instistuis bias menghasilkan tipe wacana baru, yang menunjukan unit tutur kompleks yang spesifik dan pola tindak tutur. Tipe tindak tutur ini bisa merupakan sarana pengatur, tetapi bias juga terjadi bahwa percakapan itu dinyatakan secara implicit oleh latar belakang institusional itu.
4)      Klasifikasi tindak tutur.
Tidak terdapat  klasifikasi tindak tutur yang jelas. Baik klasifikasi tindak tutur Austin maupun Searle, maupun peneliti yang lain bukanlah klasifikasi yang meyakinkan. Searle  misalnya, membedakan antara representative, direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif. Tetapi terdapat  masalah  dengan klasfikasi ini, ada tiga masalah  yang bias dikemukan yakni: 1) komusif bukanlah tipe tindak tutur yang universal, tetapi dipandang sebagai reaksi terhadap direktif. 2) Menurut Searle pertanyaan merupakan subtipe direkstif. Tetapi pertanyaan bersifat marked secara gramatikal sehingga merupakan bakal tipe tindak tutur yang generic ( umum).  Pertimbagann Searle jelas terbatas pada pertanyaan informasi yang meninggalkan masalah deliberative, retorik, dan lain-lain. 3) dalam kelima tipe Searle itu, tidak terdapat tempat untuk tindak tutur seperti memperingatkan, menasehati, mengusulkan, menawarkan, yang mengandung karakteristik tipe representative dan direktif ( atau Komusif ).
Sapaan juga merupakan tipe tindak tutur yang juga perlu diberi perhatian khusus karena perilakunya yang khas. Sapaan memainkan peran dalam teori tindak tutur yang sama dengan nama proper dalam semantic logika. Proper name berfungsi mengidentifikasi orang atau obyek sejarah pengenalannya yang kembali pada situasi pemberian nama. Sapaan berfungsi mengidentifikasi pesapa dan menarik perhatiannya.
Selanjutnya akan kita uraikan empat klasifikasi tindak tutur. Criteria ini tergantung pada tujuan teori yang dipriorotaskan, yakni:
(1)   Tindak tutur bias dilasifikasi menurut pemarkah gramatikal dalam bahasa tertentu. Pemarkah gramatikal ini ada dalam bahasa-bahasa seperti bahasa Inggris dan bahasa Jerman, misalnya: a) mode interogatif – tindak tutur bertipe erotetik, b) mode imperative – tindak tutur bertipe direktif, c) mode deklaratif – tindak tutur bertipe representative, d) formula performatif spesifik – tindak tutur  bertipe deklaratif.
(2)   Tindak tutur bisa diklasifikasikan menurut: (a) tipe isi proposisi, dan (b) tipe hasil ilokusi atau tipe kondisi pemuasan.  Oleh  karena keterkaitan isi proposisi dan hasil ilokusi, klasifikasi independen menurut klasifikasi di atas tidaklah mungkin. Hasilnya akan overlap dengan hasil klasifikasi pertama, tetapi tidak koinsiden.
(3)   Tindak tutur bias dilasifikasi menurut fungsinya, misalnya apakah tindak tutur itu menyatakan permulaan gerak ataukah gerak reaksi, atau dengan kata lain, menurut posisinya dalam pola tindak tutur.
(4)   Tindak tutur bias diklasifikasi menurut asal usulnya apakah sebagai tindak tutur primer ( natural ) ataukah tindak tutur sekunder (institusional).
5)      Kaidah umum untuk melakukan interaksin makna non-literal dari makna literal.
Makan literal selalu bersifat language specific. Makna kalimat ujaran kalimat (s) bahasa (L) dikatakan literal apabila kalimat itu hanya terdiri dari makna kata-kata dan frase-frase dalam (s) menurut konvensi sintaksis dalam (L). tetapi, tidak selalu jelas apa makna  kata-kata  dan frase-frase dalam (s) tersebut, sebab kata-kata itu bias memiliki makna yang berbeda, dan sebab makna kata-kata itu sering tergantung pada konteks © ujaran itu.  Misalnya, makna pernyataan indeksikal seperti saya, di sini, sekarang dalam sebuah ujaran atau makna pernyataan anaforis seperti Dia, kemudian, itu dalam sebuah ujaran tergantung pada © konteks.
            Derivasi makna non-literal selalu menggunakan makna literal dan penggunaan premis kontekstual tertentu.  Hal ini termasuk pengetahuan perceptual, pengetahuan konteks yang mendahului interaksi itu, pengetahuan tipe wacana yag relevan, pengetahuan pola tindak tutur dan latar belakang institusional, pengetahuan tentang dunia dan tentang pengalaman dan kondisin mental  partisipan, tentang preferensi dan teng prinsip-prinsip umum kerja sama.
B.1  Karakteristik Tindak Tutur dan Prosedur
a.      Performatif
Performatif adalah ujaran yang merupakan tindakan melakukan sesuatu dengan membuat ujaran itu. Sahih atau tidaknya sebuah performatif bergantung kepada apaah persyaratan kesahihan dipenuhi atau tidak. Menurut Austin (1962), yang contoh-contoh performatifnya adalah yang biasanya dipakai di dalam upacara, ada empat syarat kesahihan yang mesti dipenuhi agar (tindak) performatif berhasil (taitu sah atau tidak).
1)      Mesti ada prosedur konvensional yang mempunyai efek konvensional, dan prosedur itu mestilah mencakup pengujaran kata-kata tertentu oleh orang-orang tertentu pada peristiwa tertentu.
2)      Orang-orang dan peristiwa tertentu di dalam kasus tertentu mestilah yang berkelayakan atau yang patut (appropriate) untuk pelaksanaan prosedur yang dilaksanakan.
3)      Prosedur itu mestilah dilaksanakan oleh para peserta secara benar,  dan
secara lengkap.
b.       Lokusi, Ilokusi, dan Perlokusi
Austin (1962) membedakan tiga jenis tindakan yang berkaitan dengan ujaran.
1)      Lokusioner (lokusi), semata-mata adalah tindak berbicara atau tindak bertutur, yaitu tindak mengucapkan sesuatu dengan kata dan makna kalimat sesuai dengan makna kata itu (di dalam kamus) dan makna sintaksis kalimat itu menurut kaidah sintaksisnya. Contoh, jika seseorang mengucapkan “Saya haus” maka artinya ‘saya’ sebagai orang pertama tunggal (yaitu si penutur) dan ‘haus’ sebagai mengacu ke ‘tenggorokan kering dan perlu dibasahi’, tanpa bermaksud untuk minta minum.
2)      Ilokusioner (ilokusi) adalah tindak melakukan sesuatu. Di sini kita berbicara tentang maksud, fungsi, atau daya ujaran yang bersangkutan, dan bertanya “Untuk apa ujaran itu dilakukan?”. Contoh, jika seseorang mengucapkan “Saya haus” maksudnya adalah minta  minum.
3)      Perlokusioner (perlokusi) adalah adanya efek dari tindak tutur itu. Contoh, jika seorang penculik mengucapkan “Saya haus” maka efeknya adalah untuk menakut-nakuti anak yang diculiknya.
c.       Tindak Tutur Langsung dan Tidak Langsung
Empat macam ujaran tindak tutur langsung dan tidak langsung:
1)      Langsung, harfiah. Contoh, “Buka mulut” diucapkan oleh dokter gigi kepada pasiennya.
2)      Langsung, tidak harfiah. Contoh, “Tutup mulut!” diucapkan oleh seorang yang jengkel kepada lawan bicaranya yang berbicara terus-menerus.
3)      Tidak langsung, harfiah. Contoh, “Bagaimana kalau mulutnya dibuka?” diucapkan oleh dokter gigi kepada pasiennya yang anak-anak agar si anak tidak takut.
4)      Tidak langsung, tidak harfiah. Contoh, “Untuk menjaga rahasia, lebih baik jika kita semua menutup mulut kita masing-masing.” Diucapkan oleh penutur kepada orang yang diseganinya agar ia tidak membuka rahasia.
C.     JENIS TINDAK TUTUR
Searle dalam bukunya Act: An Essay in the Philoshopy of Language mengemukakan bahwa secara pragmatis ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur (dlm Rohmadi 2004: 30) yakni tindak lokusi (locutionary act), tindak ilokusi (illocutionary act), dan tindak tutur perlokusi (perlocutionary act). Hal ini senada dengan pendapat Austin yang juga membagi jenis tindak tutur menjadi lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Berikut pembahasan ketiganya.
     1.    Tindak Lokusi
     Tidak tutur lokusi adalah tindak tutur yang dimaksudkan untuk menyatakan sesuatu; tindak mengucapkan sesuatu dengan kata dan makna kalimat sesuai dengan makna kata itu di dalam kamus dan makna kalimat itu menurut kaidah sintaksisnya (Gunarwan dalam Rustono, 1999: 37). Fokus lokusi adalah makna tuturan yang diucapkan, bukan mempermasalahkan maksud atau fungsi tuturan itu. Rahardi (2003: 71) mendefinisikan bahwa lokusi adalah tindak bertutur dengan kata, frasa, dan kalimat sesuai dengan makna yang dikandung oleh kata, frasa, dan kalimat itu. Lokusi dapat dikatakan sebagai the act of saying something. Tindak lokusi merupakan tindakan yang paling mudah diidentifikasi karena dalam pengidentifikasiannya tidak memperhitungkan konteks tuturan (Rohmadi, 2004: 30).
Contoh tindak tutur lokusi adalah ketika seseorang berkata “badan saya lelah sekali”. Penutur tuturan ini tidak merujuk kepada maksud tertentu kepada mitra tutur. Tuturan ini bermakna bahwa si penutur sedang dalam keadaan lelah yang teramat sangat, tanpa bermaksud meminta untuk diperhatikan dengan cara misalnya dipijit oleh si mitra tutur. Penutur hanya mengungkapkan keadaannya yang tengah dialami saat itu. Contoh lain misalnya kalimat “Sandy bermain gitar”. Kalimat ini dituturkan semata-mata untuk menginformasikan sesuatu tanpa tendensi untuk melakukan sesuatu apalagi untuk memengaruhi lawan tuturnya.

     2.    Tindak Ilokusi
     Bila tata bahasa menganggap bahwa kesatuan-kesatuan statis yang abstrak seperti kalimat-kalimat dalam sintaksis dan proposisi-proposisi dalam semantik, maka pragmatik menganggap tindak-tindak verbal atau performansi-performansi yang berlangsung di dalam situasi-situasi khusus dan waktu tertentu. Pragmatik menganggap bahasa dalam tingkatan yang lebih konkret daripada tata bahasa. Singkatnya, ucapan dianggap sebagai suatu bentuk kegiatan: suatu tindak ujar (Tarigan, 1986: 36). Menurut pendapat Austin (Rustono, 1999: 37) ilokusi adalah tindak melakukan sesuatu Ilokusi merupakan tindak tutur yang mengandung maksud dan fungsi atau daya tuturan. Pertanyaan yang diajukan berkenaan dengan tindak ilokusi adalah “untuk apa ujaran itu dilakukan” dan sudah bukan lagi dalam tataran “apa makna tuturan itu?”. Rohmadi (2004: 31) mengungkapkan bahwa tindak ilokusi adalah tindak tutur yang berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan sesuatu dan dipergunakan untuk melakukan sesuatu. Contoh tindak tutur ilokusi adalah “udara panas”. Tuturan ini mengandung maksud bahwa si penutur meminta agar pintu atau jendela segera dibuka, atau meminta kepada mitra tutur untuk menghidupkan kipas angin. Jadi jelas bahwa tuturan itu mengandung maksud tertentu yang ditujukan kepada mitra tutur. Contoh lain, kalimat “Suseno sedang sakit”. Jika kalimat ini dituturkan kepada mitra tutur yang sedang menyalakan televisi dengan volume yang sangat tinggi, berarti tuturan ini tidak hanya dimaksudkan untuk memberikan informasi, tetapi juga menyuruh agar mengecilkan volume atau bahkan mematikan televisi.
     3.    Tindak Tutur Perlokusi
Tuturan yang diucapkan penutur sering memiliki efek atau daya pengaruh (perlocutionary force). Efek yang dihasilkan dengan mengujarkan sesuatu itulah yang oleh Austin (1962: 101) dinamakan perlokusi. Efek atau daya tuturan itu dapat ditimbulkan oleh penutur secara segaja, dapat pula secara tidak sengaja. Tindak tutur yang pengujaran dimaksudkan untuk memengaruhi mitra tutur inilah merupakan tindak perlokusi.
Ada beberapa verba yang dapat menandai tindak perlokusi. Beberapa verba itu antara lain membujuk, menipu, mendorong, membuat jengkel, menakut-nakuti, menyenangkan, mempermalukan, menarik perhatian, dan lain sebagainya (Leech, 1983). Contoh tuturan yang merupakan tindak perlokusi:
1.                  “ada  hantu!”
2.                  “sikat saja!”
3.                  “dia selamat, Bu.”
Tiga kalimat tersebut masing-masing memiliki daya pengaruh yaitu menakut-nakuti,mendorong, dan melegakan (Rustono, 1999).
Sehubungan dengan pengertian tindak tutur di atas, tindak tutur digolongkan menjadi lima jenis oleh Searle (Rohmadi, 2004:32; Rustono, 1999: 39). Kelima jenis itu adalah tindak tuturrepresentatif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasi. Berikut penjelasan kelimanya.
       1)        Representatif
            Representatif merupakan tindak tutur yang mengikat penuturnya kepada kebenaran atas hal yang dikatakannya. Tindak tutur jenis ini juga disebut dengan tindak tutur asertif. Yang termasuk tindak tutur jenis ini adalah tuturan menyatakan, menuntut, mengakui, menunjukkan, melaporkan, memberikan kesaksian, menyebutkan, berspekulasi. Contoh jenis tuturan ini adalah: “Adik selalu unggul di kelasnya”. Tuturan tersebut termasuk tindak tutur representatif sebab berisi informasi yang penuturnya terikat oleh kebenaran isi tuturan tersebut. Penutur bertanggung jawab bahwa tuturan yang diucapkan itu memang fakta dan dapat dibuktikan di lapangan bahwa si adik rajin belajar dan selalu mendapatkan peringkat pertama di kelasnya. Contoh yang lain adalah: “Tim sepak bola andalanku menang telak”, “Bapak gubernur meresmikan gedung baru ini”.
       2)        Direktif
            Tindak tutur direktif adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar mitra tutur melakukan tindakan sesuai apa yang disebutkan di dalam tuturannya. Tindak tutur direktif disebut juga dengan tindak tutur impositif. Yang termasuk ke dalam tindak tutur jenis ini antara lain tuturan meminta, mengajak, memaksa, menyarankan, mendesak, menyuruh, menagih, memerintah, mendesak, memohon, menantang, memberi aba-aba. Contohnya adalah “Bantu aku memperbaiki tugas ini”. Contoh tersebut termasuk ke dalam tindak tutur jenis direktif sebab tuturan itu dituturkan dimaksudkan penuturnya agar melakukan tindakan yang sesuai yang disebutkan dalam tuturannya yakni membantu memperbaiki tugas. Indikator dari tuturan direktif adalah adanya suatu tindakan yang dilakukan oleh mitra tutur setelah mendengar tuturan tersebut.
       3)        Ekspresif
            Tindak tutur ini disebut juga dengan tindak tutur evaluatif. Tindak tutur ekspresif adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar tuturannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dalam tuturan itu, meliputi tuturan mengucapkan terima kasih, mengeluh, mengucapkan selamat, menyanjung, memuji, meyalahkan, dan mengkritik. Tuturan “Sudah kerja keras mencari uang, tetap saja hasilnya tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga”. Tuturan tersebut merupakan tindak tutur ekspresif mengeluh yang dapat diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang dituturkannya, yaitu usaha mencari uang yang hasilnya selalu tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Contoh tuturan lain adalah “Pertanyaanmu bagus sekali” (memuji), “Gara-gara kecerobohan kamu, kelompok kita didiskualifikasi dari kompetisi ini” (menyalahkan),  “Selamat ya, Bu, anak Anda perempuan” (mengucapkan selamat).
       4)        Komisif
            Tindak tutur komisif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan segala hal yang disebutkan dalam ujarannya, misalnya bersumpah, berjanji, mengancam, menyatakan kesanggupan, berkaul. Contoh tindak tutur komisif kesanggupan adalah “Saya sanggup melaksanakan amanah ini dengan baik”. Tuturan itu mengikat penuturnya  untuk melaksanakan amanah dengan sebaik-baiknya. Hal ini membawa konsekuensi bagi dirinya untuk memenuhi apa yang telah dituturkannya. Cotoh tuturan yang lain adalah “Besok saya akan datang ke pameran lukisan Anda”, “Jika sore nanti hujan, aku tidak jadi berangkat ke Solo”.
       5)        Deklarasi
            Tindak tutur deklarasi merupakan tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya utuk menciptakan hal (status, keadaan, dan sebagainya) yang baru. Tindak tutur ini disebut juga dengan istilahisbati. Yang termasuk ke dalam jenis tuutran ini adalah tuturan dengan maksud mengesankan, memutuskan, membatalkan, melarang, mengabulkan, mengizinkan, menggolongkan, mengangkat, mengampuni, memaafkan. Tindak tutur deklarasi dapat dilihat dari contoh berikut ini.
a)      “Ibu tidak jadi membelikan adik mainan.” (membatalkan)
b)      “Bapak memaafkan kesalahanmu.” (memaafkan)
c)      “Saya memutuskan untuk mengajar di SMA almamater saya.” (memutuskan).



BAB III
Kesimpulan
                        Dari uraian pembahasan di atas, maka dapat kami simpulkan sebagai berikut:
1.      Karakteristik Tindak Tutur
a. Performatif
Performatif adalah ujaran yang merupakan tindakan melakukan sesuatu dengan membuat ujaran itu. Sahih atau tidaknya sebuah performatif bergantung kepada apaah persyaratan kesahihan dipenuhi atau tidak. Menurut Austin (1962), yang contoh-contoh performatifnya adalah yang biasanya dipakai di dalam upacara, ada empat syarat kesahihan yang mesti dipenuhi agar (tindak) performatif berhasil (taitu sah atau tidak).
1.      Mesti ada prosedur konvensional yang mempunyai efek konvensional, dan prosedur itu mestilah mencakup pengujaran kata-kata tertentu oleh orang-orang tertentu pada peristiwa tertentu.
2.      Orang-orang dan peristiwa tertentu di dalam kasus tertentu mestilah yang berkelayakan atau yang patut (appropriate) untuk pelaksanaan prosedur yang dilaksanakan.
3.      Prosedur itu mestilah dilaksanakan oleh para peserta secara benar,  dan
secara lengkap.
b. Lokusi, Ilokusi, dan Perlokusi
Austin (1962) membedakan tiga jenis tindakan yang berkaitan dengan ujaran.
1.      Lokusioner (lokusi), semata-mata adalah tindak berbicara atau tindak bertutur, yaitu tindak mengucapkan sesuatu dengan kata dan makna kalimat sesuai dengan makna kata itu (di dalam kamus) dan makna sintaksis kalimat itu menurut kaidah sintaksisnya. Contoh, jika seseorang mengucapkan “Saya haus” maka artinya ‘saya’ sebagai orang pertama tunggal (yaitu si penutur) dan ‘haus’ sebagai mengacu ke ‘tenggorokan kering dan perlu dibasahi’, tanpa bermaksud untuk minta minum.
2.      Ilokusioner (ilokusi) adalah tindak melakukan sesuatu. Di sini kita berbicara tentang maksud, fungsi, atau daya ujaran yang bersangkutan, dan bertanya “Untuk apa ujaran itu dilakukan?”. Contoh, jika seseorang mengucapkan “Saya haus” maksudnya adalah minta  minum.
3.      Perlokusioner (perlokusi) adalah adanya efek dari tindak tutur itu. Contoh, jika seorang penculik mengucapkan “Saya haus” maka efeknya adalah untuk menakut-nakuti anak yang diculiknya.
c. Tindak Tutur Langsung dan Tidak Langsung
Empat macam ujaran tindak tutur langsung dan tidak langsung:
1)      Langsung, harfiah. Contoh, “Buka mulut” diucapkan oleh dokter gigi kepada pasiennya.
2)      Langsung, tidak harfiah. Contoh, “Tutup mulut!” diucapkan oleh seorang yang jengkel kepada lawan bicaranya yang berbicara terus-menerus.
3)      Tidak langsung, harfiah. Contoh, “Bagaimana kalau mulutnya dibuka?” diucapkan oleh dokter gigi kepada pasiennya yang anak-anak agar si anak tidak takut.
4)      Tidak langsung, tidak harfiah. Contoh, “Untuk menjaga rahasia, lebih baik jika kita semua menutup mulut kita masing-masing.” Diucapkan oleh penutur kepada orang yang diseganinya agar ia tidak membuka rahasia.
2.      Jenis Tindak Tutur
Searle mengembangkan teori tindak tutur dengan mambagi-bagi semua tindak tutur menjadi jenis-jenis tindak tutur dan kemudian mencoba menentukan persyaratan kesahihan masing-masing. Untuk tindak tutur “berjanji” misalnya, Searle mengatakan ada lima syarat kesahihan, yang ia namakan kaidah isi proposisional, yaitu:
1)      Penutur mestilah bermaksud memenuhi apa yang ia janjikan.
2)      Penutur mestilah percaya (bahwa si pendengar percaya) bahwa tindakan yang dijanjikan menguntungkan pendengar.
3)      Penutur mestilah percaya bahwa ia dapat memenuhi janji itu.
4)      Penutur mestilah memprediksikan tindakan (yang akan dilakukan) pada masa yang akan datang.
5)      Penutur mesti memprediksikan tindakan yang akan dilakukan oleh dirinya sendiri.
Yang penting disebutkan sehubungan dengan pengertian tindak tutur adalah bahwa ujaran (dapat dikategorikan, seperti yang diuraikan oleh Searle (1975), menjadi lima jenis, yaitu:
a)      Representatif (kadang-kadang disebut asertif)
b)      Direktif (kadang-kadang disebut impositif)
c)      Ekspresif.
d)     Komisif
e)      Deklarasi
Pakar-pakar yang lain seperti Leech, Fraser, Bach, dan Harnish mengemukakan klasifikasi yang berbeda. Namun, yang dapat disimpulkan dari teori tindak tutur adalah bahwa satu bentuk ujaran dapat mempunyai lebih dari satu fungsi. Kebalikannya adalah kenyataan di dalam komunikasi yang sebenarnya, yakni bahwa satu fungsi dapat dinyatakan, dilayani, atau diutarakan dalam berbagai bentuk ujaran. Menyuruh, misalnya dapat diungkapkan dengan menggunakan bentuk ujaran yang berupa (Blum-Kulka, 1987):
a.       Kalimat bermodus imperatif (dan ini adalah yang dikatakan di dalam tata bahasa tradisional). Contoh, “Pindahkan kotak ini!”
b.      Kalimat performatif eksplisit. Contoh, “Saya minta Saudaramemindahkan kotak ini.”
c.       Kalimat performatif berpagar. Contoh, “Saya sebenarnya mau minta Saudara memindahkan kota ini.”
d.      Pernyataan keharusan. Contoh, “Saudara harus memindahkan kotak ini.”
e.       Pernyataan keinginan. Contoh, “Saya ingin kotak ini dipindahkan.”
f.       Rumusan saran. Contoh, “Bagaimana kalau kotak ini dipindahkan?”
g.      Persiapan pertanyaan. Contoh, “Saudara dapat memindahkan kotak ini?”
h.      Isyarat kuat. Contoh, “Dengan kotak ini di sini, ruangan ini kelihatan sesak.”
i.        Isyarat halus. Contoh, “Ruangan ini kelihatan sesak.”
Mengenai jenis-jenis tindak tutur, dapat disebutkan jenis yang lain, yaitu: (1) tindak tutur vernakuler (yakni yang dapat dilakukan oleh setiap anggota masyarakat tutur, misalnya meminta, mengucapkan terima kasih, memuji) dan (2) tindak tutur seremonial (yakni yang dilakukan oleh orang yang berkelayakan untuk hal itu (Fraser, 1974), misalnya menikahkan orang, memutuskan perkara, membuka sidang DPR. Bach dan Harnish (1979) menyebut tndak tutur seremonial itu tindak tutur konvensional, sebagai lawan dari yang tidak konvensional.




DAFTAR PUSTAKA

Austin, J.L. 1962. How to Do Things with Words. London: Oxford University Press.
Ibrahim, Abd.Syukur.1993. Kajian Tindak tutur. Surabaya: Usaha Nasional.
Gunawarman, Asim. 1994. Pragmatik: Pandangan Mata Burung. Jakarta: Lembaga Bahasa Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.
Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-prinsip Pragmatik. Jakarta: UI Press.
Rohmadi, Muhammad. 2004. Pragmatik: Teori dan Analisis. Yogyakarta: Lingkar Media.
Rustono. 1999. Pokok-pokok Pragmatik. Semarang: IKIP Semarang Press.
Tarigan, Henry Guntur. 1986. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa.