Senin, 07 Maret 2016

Nilai Relguisitas Dalam Sastra



A.    NILAI-NILAI RELIGIUSITAS
1.      Hakikat Religiusitas
Menurut The Word Book Dictionary (Chicago, dalam Atmosuwito:1989), kata religiousity berarti religious feeling or sentiment atau perasaan keagamaan.  Religi juga dapat diartikan lebih luas dari itu, konon kata religi menurut asal katanya berarti ikatan atau pengikatan diri. Dari pengertian ini, religi lebih mengarah pada hal yang berkaitan dengan personalitas. Oleh karena itu, ia lebih dinamis dan karena lebih menonjolkan eksistensinya dalam kehidupan manusia.
 Jika sesuatu terdapat ikatan atau pengikatan diri, maka kata religi berarti menyerahkan diri, tunduk, dan taat. Sementara itu, agama biasanya terbatas dalam ajaran-ajaran (doctrines) atau aturan-aturan (laws). Perasaan agama ialah segala yang berkaitan dengan ketuhanan. Hubungan batin antara  manusia dengan tuhannya.  Agama lebih menunjukkan pada kelembagaan kebaktian kepada tuhan, atau  kepada dunia atas dalam aspek yang resmi, yuridis, perturan-peraturan dan hukum-hukumnya.
Menurut Mangunwijaya (1992:12), religiusitas lebih melihat aspek yang ada di dalam “lubuk hati”, riak getararan hati nurani  pribadi, sikap personal.  Pemahaman mengenai religiusitas adalah dengan cara melihat perbedaan antara agama dan religiusitas. Agama lebih mengacu kepada pengertian konseptual, sedangkan religiusitas (keberagamaan) mengacu kepada fungsional (Amir, 1992:19). Agama merupakan ajaran yang dinyataan suci oleh para pemeluknya. Keberagaman (religiusitas) adalah aspek yang fungsional sebagai fenomena dalam kehidupan manusia, yaitu fenomea tingkah laku dan sikap hidup manusia beragama.
Pada kenyataannya, persepsi yang konvesnional dalam masyarakat pada saat ini bahwa religiusitas hanyalah membicarakan permasalahan ketuhanan saja. padahal kenyataannya tidaklah demikian, karena religiusitas membicarakan dan mempersoalkan kemanusiaan manusia itu sendiri. Dalam pengertian lain, religiusitas bukan hanyalah transendental vertikal tetapi bersamaan dengan itu transendental horizontal. Kehidupan manusia itu sendiri tidak mungkin hanya berhubungan dengan Tuhan saja, atau dengan manusia saja, terkotak-kotak dan terlepas satu sama lain (Amir, 1992:20).

2.      Nilai-nilai Religiusitas
Al-Qardhawy membagi nilai-nilai religiusitas Islam sebagai berikut. Nilai-nilai tersebut merupakan pilar-pilar atau tonggak-tonggak dalam Islam.
a.       Akidah
Al-Qhardawy (1997:57) mengemukakan bahwa akidah merupakan penutup akidah samawi (risalah langit) yang mana Alquran al-Karim dan sunnah Rasul yang agung secara lengkap telah menjelaskan akidah itu dan memberikan petunjuk kepadanya yaitu berupa keimanan kepada Allah, hari akhir, para malaikat, kitab-kitab suci dan para nabi.
Al-Qhardawy (1997:56) menyatakan unsur dasar akidah adalah: keimanan kepada Allah, keimanan kepada kenabian dan keimanan kepada akhirat. Dan mungkin dapat diglobalkan menjadi: keimanan kepada Allah dan hari akhir. Keimanan kepada Allah mencakup keimanan kepada eksistensi keesaan-Nya, dan keimanan kepada kesempurnaan-Nya.

b.      Ibadah
Menurut Al-Qardhawi (1997:87) arti ibadah secara syariat adalah ketundukan dan kecintaan. Ibadah yang disyariatkan haruslah memiliki dua hal: (1) komitmen dengan apa yang disyariatkan Allah dan diserukan oleh para rasul-Nya baik berupa perintah maupun larangan, penghalalan maupun pengharaman. Inilah yang merupakan unsur ketaatan dan ketundukan kepada Allah; (2) komitmen ini keluar dari hati yang mencintai Allah Swt. Tidak ada dalam kehidupan ini yang lebih pantas dari Allah Swt untuk dicintai.
Selanjutnya Al-Qardhawi (1997:98-99) mengemukakan pekerjaan manusia dalam pencahariannya adalah ibadah dengan beberapa syarat berikut.
1.      Pekerjaan itu dibolehkan menurut pandangan Islam.
2.      Disertai niat yang baik.
3.      Melaksanakan pekerjaan dengan penuh ketekunan dan secara ihsan (profesional).
4.      Ber-iltizan (komitmen) dengan ketentuan Allah dlm pekerjaan.
5.      Pekerjaan duniawiah tidak melalaikannya dari kewajiban-kewajiban agamanya.
c.       Akhlak
Al-Qhardawy (1997:111) akhlakiyah (moralisme) merupakan suatu karakter di antara karakter Islam yang umum. Hal itu bukan hanya sekedar karena Islam menganjurkan dengan keras kepada nilai-nilai luhur (norma) dan memperingatkan dengan keras terhadap perbuatan hina, menegaskan anjuran dan peringatan ini sampai pada tingkat pengharusan serta menentukan balasan terbesar atas hal itu, baik berupa pahala maupun hukuman, di dunia maupun akhirat.



A.    Nilai-nilai Religiusitas dalam Teks Sastra
1.      Hubungan Sastra dan Religiusitas
Pada akhir tahun 1953, Bahrum Rangkuti (dalam Atmusiwito, 1987:124) pernah mengatakan bahwa Alquran dan Bible tidak didalami oleh pengarang Indonesia modern.  Bahkan terjemahan Alquran dan Bible pun hingga pada waktu itu belum memuaskan (karya terjemah literer). Padahal Alquran dan Bible itu memilki kandungan tulisan yang berbobot.
Dari pemahaman demikian, Kitab Suci Alquran selain mengandung tulisan-tulisan suci agaman Islma, juga mengandung tulisan sastra. Selain itu, Kitab Suci Bible juga dikatakan sebagai karya sastra, terutama Mazmur, Amsal, dan kitab-kitab nabi. Dalam kitab perjanjian lama Mazmur dikatakan buku-buku puisi, sedangkan Amsal dikatakan kitab sastra bijak (wisdom literature).  Begitu juga kita melihat kitab Bhagawat Gita  yang merupakan kitab suci agama Hindu, sebenarnya juga berbentuk karya sastra. Jadi, pembahasan lebih lanjut antara sastra dan religi itu sangan jelas kaitannya. Pada masa lampau, secara terpisah terlihat, sebelum  Yahudi,  Nasrani, Islam  datang  secara utuh untuk membimbing manusia dalam kehidupannya, yang menjadi dasar pemikiran untuk menuntun kehidupan manusia manusia adalah budaya (sastra).
Mangunwijaya (1982: 16) menyatakan semua sastra yang baik itu religius. Dari pendapat ini dapat dipahami bahwa semua karya sastra yang memangku nilai-nilai dan norma dalam penampilannya maka sastra itu dapat digolongkan pada religius. Selanjutnya, Amir (1992:11) menyatakan sastra merupakan sebuah sisi dunia religiusitas. Dapat kita pahami bahwa karya sastra merupakan cerminan kehidupan manusia dalam ruang  yang berbeda. Dalam karya sastra membahasan bagaimana manusia itu hidup dan hubungannya dengan Tuhan.
Menurut Amir (1992:28), sastra adalah sebuah fenomena religiusitas. Pendekatan religiusitas secara mendasar akan menganalisis kenyataan kemanusiaan dari (1) hubungan manusia dengan manusia, (2) kenyataan kemanusiaan (nilai dan realitanya) dengan hubungan manusia dengan alam, (3) kenyataan kebertuhanan manusia adalah titik pengamatan yang mendasari kenyataan (1) dan (2).

2.      Sastra Religius dan Sastra Falsafi
Goenawan Muhammad pada tahun 1960-an  pernah menulis sebuah essay mengenai keagamaan di Indonesia. Konon Muhammad Saribi Afan dikenal sebagai penyar religius sebab beberapa hasil karyanya yang menonjol menampilkan religiusitas di antaranya “ Malam Kudus”, “Salam Padamu”, “Ya Malaikat”, dalam kumpulan bersama manifestasi (1963). Selanjutnya Fridolin Ukur yang meng-Immanuel-kan sajak-sajaknya yang mewakili penyair Kristen. Sehingga dengan hadirnya sastrawan ini, telah mendatangkan suatu genre baru dalam dunia sastra. Sebenarnya masih banyak tokoh yang dapat digolongkan pada sastrawan religi waktu itu, yang menonjol seperti Djamil Suherman, W.S. Rendra dan lainnya.
Para sastrwan yang baru ini bukan membuat  kehidupan beragama sebagai latar belakangnya. Namun sebaliknya mereka menitik beratkan agama sebagai pemecahan masalah. Agama menurut sastra religius, adalah bukan sesuatu kekuasaan melainkan sebagai alat pen-demokrasi-an.

3.      Nilai-nilai Religiusitas dalam Sastra
Religiusitas tidak bekerja dalam pengertian-pengertian (otak) tetapi pengalaman, penghayatan (totalitas diri) yang mendahului analisis atau konseptualisasi (Mangunwijaya 1988: 17). Jadi, jelaslah bahwa suatu nilai religiusitas yang ada, bukan dipahami secara defenisi semata tetapi bagaimana melihat pelaksanaan dan menghayatinya. Dalam karya sastra sebagai kisah cerminan kehidupan manusia, tentu dapat kita melihat dan memahami apa-apa saja nilai-nilai yang terdapat dalam karya sastra tersebut. Salah satunya adalah nilai religius.
Atmosuwito (1987-124) mengemukakan kriteria-kriteria religiusitas pada sebuah karya sastra yaitu:
1.      penyerahan diri, tunduk dan taat kepada sang pencipta,
2.      kehidupan yang penuh kemuliaan,
3.      perasaan batin yang ada hubungannya dengan Tuhan,
4.      perasaan berdosa,
5.      perasaan takut, dan
6.      mengakui kebesaran Tuhan.