Senin, 07 Maret 2016

Pengaruh Dialek terhadap Keefektifan Berbahasa Indonesia Siswa di Sekolah



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Fakta di Lapangan
Bahasa merupakan alat pengantar komunikasi antara sesama kita dalam lingkungan sosial. Hal yang sama juga terdapat dalam kondisi pembelajaan atau kondisi pendidikan. Bahasa sebagai pengantar utama dalam pendidikan . Seseorang tidak akan melanjutkan hidup dan cita-citanya  dengan baik dan teratur tanpa ada bahasa. Bisa dikatakan bahwa bahasa sebagai bagian dari kebutuhan primer, sebagai pengatur, dalam tatanan hubungan sosial seseorang. Kegiatan berbahasa di sekolah belumlah secara meksimal terlaksana. Pengaruh bahasa sehari- hari atau bahasa pertama sangat menjolok kelihatannya.
Bila kita lihat di lapangan, pada sekolah-sekolah baik mulai dari sekolah dasar sampai pada  sekolah menengah pemakaian Bahasa Indonesia tidak lah merata bahkan jauh dari pada yang diisyaratkan oleh system pendidikan kita, bahwa bahasa pengantar  pembelajaran dan pendidikan adalah Bahasa Indonesia. Masih banyak siswa berbahasa daerah. Bahkan guru-guru sebagai staf pengajar yang bertanggung jawab dengan kelangsungan pelestarian bahasa juga tak memakai Bahasa Indonesia sebagai pengantar dengan baik.
Bagaimana mungkin siswa kita akan menggunakan bahasa dengan baik, sementara guru sebagai contoh tidak menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik. Banyak kenyataan yang dapat diamati oleh penulis di sekolah-sekolah. Disaat  penulis datang berkunjung pada sebuah sekolah yang merupakan tempat penulis bersekolah dahulunya, penulis sedikit terkesima disaat penulis berbicara dalam Bahasa Indonesia seluruh sivitas agak heran, mereka merasa asing untuk menggunakan Bahasa Indonesia sebagai pengantar percakapan di luar kondisi pembelajaran. Kondisi percakapan agak kaku, karena dianggap agak formalitas.
Kondisi yang nampak saat ini adalah masih belum sempurnanya penerapan kemampuan berbahasa siswa di sekolah-sekolah. Mulai dari tingkat sekolah dasar sampai pada  tingkat menengah bahkan sampai perguruan tinggi. Adanya pemakaian bahasa pertama serta dialek yang mempengaruhi kondisi berbehasa mereka dalam pendidikan, mengakibatkan belum sempurnanya pemakaian Bahasa Indonesia tersebut. Hal itu dapat kita lihat, masih banyak terjadi campur kode, antara bahasa daerah, ( Minangkabau, Batak , Jawa dll) dalam kemampuan berbicara siswa untuk berbahasa Indonesia. Banyak hal yangb menyebabkan kondisi ini terjadi. Mulai dari factor perkembangan ilmu pengetahuan serta factor lingkungan.
Faktor lingkungan dapat mengakibatkan daerah yang satu berdialek berbeda dengan dialek di daerah yang lain, walaupun bahasa yang digunakannya adalah  Bahasa Indonesia. Kita banyak menemukan variasi, ragam atau dialek di tengah-tengah lingkungan masyarakat sebagai penutur, tetapi kita masih belum membedakan manakah yang menjadi pola dalam penggunaannya, sehingga dalam memenuhi pengertian tentang analisis suatu bahasa menjadi lebih terarah dan mudah dipahami.
Selain itu, penulis juga mengunjungi beberapa sekolah di daerah penulis. Penggunaan Bahasa Indonesia belumlah fungsional dan efektif. Pengaruh bahasa pertama dan dialek daerah para siswa, sangat berpengaruh terhadap pemkaian kata-kata dalam berbahasa. Kenyataan inilah yang menarik perhatian penulis untuk mengangkat masalah ini, dalam tugas makalah sosiolingistik ini.
B.        Ideal Bahasa di Sekolah
Bahasa Indonesia merupakan bahasa pengantar pendidikan. Secara gamblang,  siswa di sekolah beserta unsur-unsur pendidikan harus memakai Bahasa Indonesia untuk pengantar pendidikan dan bahasa pergaulan dalam kegiatan dalam lingkungan pendidikan. Dari seluruh tingkat pendidikan mulai dari SD sampai dengan SMA bahkan Perguruan Tinggi seharusnya berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia. 
Walau secara kasat mata, bahasa ibu atau bahasa pertama tak bias ditampik untuk dilestarikan. Tetapi dalam proses komunikasi dalam pendidikan dan pelajaran harus menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar.

C.     Masalah
Dari uraian fakta dan realita di atas, dan idealnya kondisi berbahasa di sekolah maka timbul berbagai masaah yang terdapat dalam pendidikan. Salah satunya adalah bagaimana membuat efektifnya kimunikasi siswa di sekolah dengan menggunakan Bahasa Indonesia tanpa dipengaruhi oleh Bahasa Pertama dan Dialek.
D.     Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian yang diharapkan akan tercapai dalam penelitian ini adalah :
1.   Mengetahui pengaruh  dialek dan Bahasa Ibu yang digunakan oleh siswa SMP   terhadap keefektifan  berbahasa Indonesia di sekolah.
2.    Mengetahui pengaruh dialek dan Bahasa Ibu terhadap kemampuan berbahasa indonesia

II . Kajian Pustaka

A.    Dialek
1)      Pengertian Dialek
Bahasa merupakan unsur yang sangat vital dalam berkomunikasi, yakni sebagai alat komunikasi yang paling utama. Bahasa mempunyai kedudukan yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Dalam melaksanakan hubungan sosial dengan sesamanya, manusia sudah menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi sejak berabad – abad silam. Bahasa merupakan sebuah sistem lambang, berupa bunyi, bersifat arbriter, produktif, dinamis, beragam, dan manusiawi (Chaer dan Agustina, 1995 : 14). Namun, secara tradisional bahasa merupakan alat untuk berinteraksi atau berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep, dan perasaan. Fungsi bahasa sebagai alat komunikasi manusia baik berbentuk lisan maupun tulisan, pada hakikatnya merupakan sebuah sistem yang terdiri atas beberapa unsur yang saling mendukung. Fungsi ini sudah mencakup lima fungsi dasar yang disebut expression, information, exploration, persuation, dan entertainment (Michel, 1967 :23).
Fungsi bahasa sebagai alat komunikasi antar daerah yang ada di Indonesia ini masih mendapat pengaruh dari dialek masing-masing daerah. Perbedaan dialek di daerah satu dengan daerah lainnya dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Faktor lingkungan ini juga termasuk letak geografis, psikologis penduduk sekitar, kebudayaan, serta pengaruh akulturasi budaya asing. William F. Mackey (1962) melukiskan adanya empat hal yang dapat memberikan kedwibahasaan, yaitu (1) tingkat kedwibahasaan, (2) fungsi, (3) alternasi, (4) interferensi. Fungsi dibagi dua yaitu fungsi internal dan fungsi eksternal. Fungsi eksternal melukiskan pemakaian bahasa menurut lingkungan pemakainya. Pemakaian bahasa dalam setiap lingkungan atau daerah sentuh bahasa ditentukan oleh beberapa variabel yaitu (1) lamanya, (2) kekerapannya, dan (3) dorongan-dorongan yang menyebabkan adanya pemakaian bahasa.
Lingkungan pemakaian bahasa atau daerah sentuh bahasa dapat terjadi (1) di rumah, (2) di masyarakat, (3) di sekolah, (4) dalam media massa, dan (5) dalam korespondensi. Pemakaian bahasa di suatu tempat memengaruhi kebakuan kata yang diucapkan. Misalnya, antara di lingkungan rumah dengan dalam korespondensi yang menyangkut suatu tempat kepemerintahan atau instansi. Seringkali dijumpai dalam situasi-situasi formal akan menuntut seseorang memakai bahasa baku dan sedikit meninggalkan dialek daerahnya.
Jika membahas tentang penggunaan dialek dalam berbahasa, pada umumnya dibenarkan meskipun banyak dari penggunaannya yang menyalahi kaidah-kaidah kebahasaan. Pada daerah tertentu, dialek banyak yang merubah jeda, intonasi bahkan penambahan  huruf vokal dan penekanan dalam kata-kata tertentu dan sebagainya. Misalnya,di daerah Sumatera Barata suku Minangabau saja mempunayai berbagai macam dialek, Payakumbuh, Agam, Maninjau, Pariaman, Solok, Padang yang kesemuanya ini mempunyain ciri-ciri tertentu.. Apalah lagi di wilayah Indonesia akan bermunculan berbagain macam dialek yang akan mempengaruhi keefektifan berbahasa Indonesia itu.  
Penggunaan istilah dialek dan bahasa dalam masyarakat umum memang seringkali bersifat ambigu. Secara linguistik jika masyarakat tutur masih saling mengerti maka alat komunikasinya adalah dua dialek dari bahasa yang sama. Namun, secara politis, meskipun dua masyarakat tutur bisa saling mengerti karena kedua alat komunikasi verbalnya mempunyai kesamaan sistem dan subsistem tetapi keduanya dianggap sebagai dua bahasa yang berbeda, contohnya bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia yang secara linguistic adalah sebuah bahasa tetapi secara politis dianggap sebagai dua bahasa yang berbeda.
Dialek adalah variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berbeda dari satu tempat wilayah atau area tertentu (menurut Abdul Chaer). Sedangkan menurut bahasa yunani dialek disebut dialektos yang berarti varian dari sebuah bahasa menurut pemakai. Pemberian dialek berdasarkan factor geografi dan social. Dialek dibedakan berdasarkan kosa kata, tata bahasa, dan pengucapan. Jika pembedaannya hanya berdasarkan pengucapan, maka disebut aksen.
Dapat disimpulkan bahwa dialek adalah variasi bahasa dari sekelompok penutur yang berbeda dengan kelompok penutur lain berdasarkan atas letak geografi, faktor sosial, dan lain-lain. Ilmu yang mempelajari dialek disebut dialektologi yaitu bidang studi yang bekerja dalam memetakan batas dialek dari suatu bahasa.
2)      Asal Usul Dialek

Menurut Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1983) pertumbuhan dan perkembangan dialek sangat oleh faktor kebahasaan dan faktor luar bahasa, seperti keadaan alam misalnya memperngaruhi ruang gerak, penduduk setempat, mempermudah penduduk berkomunikasi dengan dunia luar maupun mengurangi adanya kemungkinan itu (Guiraud, 1970) sejalan dengan adanya alam tersebut dapat dilihat pula adanya batas-batas politik menjadi jembatan terjadinya pertukaran budaya. Hal ini menjadi salah satu sarana terjadinya pertukaran bahasa. Demikian pula halnya masalah ekonomi, cara hidup dan sebaginya. Tercermin pula di dalam dialek yang bersangkutan (Guiraud, 1970).
Menurut Guiraud yang dikutip oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1983) terjadinya ragam dialek itu disebabkan oleh adanya hubungan dan keunggulan bahasa yang terbawa ketika terjadinya perpindahan penduduk, penyerbuaan atau penjajahan. Hal yang tidak boleh dilupakan ialah peranan dialek atau bahasa yang betentangan proses suatu terjadinya dialek itu. Dari dialek dan bahasa yang bertentangan itu anasir kosakata, struktur, dan cara pengucapan atau lafal.
Setelah itu kemudian ada di antara dialek tersebut yang diangkat menjadi bahasa baku, maka peranan bahasa baku itu pun tidak boleh dilupakan. Sementara pada gilirannya bahasa baku tetap terkena pengaruh baik dari dialeknya ataupun bahasa tetangganya. Selanjutnya dialek berkembang menuju dua arah yaitu, perkembangan membaik dan perkembangan memburuk. 
Menurut Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1983) bahasa sunda di kota Bandung dijadikan bahasa sekolah yang dianggap sebagai bahasa Sunda baku. Hal tersebut didasarkan kepada faktor obyektif dan subyektif. Secara obyektif memang harus diakui bahawa bahasa Sunda kota bandung memberikan kemungkinan lebih besar untuk dijadikan bahasa sekolah kemudian sebagai bahasa suda bak. hal ini merupakan dialek bahasa Sunda mengalami perkembangan membaik.
  Menurut Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1983) memberi contoh perkembangan dialek yang memburuk sebagai berikut. Pada lima tahun yang lalu penduduk kampung legok (Indramayu) masih berbicara bahasa Sunda sekarang penduduk kampong tersebut hanya dapat mempergunakan bahasa Jawa-Cirebon. Dengan kata lain, bahasa Sunda di kampung itu  sekarang telah lenyap dan kelenyapan itu merupakan keadaan yang paling buruk. Fakta itu merupakan perkembangan memburuk suatu bahasa atau dialek.
3)      Jenis Dialek
Berdasarkan pemakaian bahasa, dialek dibedakan menjadi berikut.:
a.       Dialek regional
Varian bahasa yang dipakai di daerah tertentu. Misalnya, bahasa Melayu dialek Ambon, dialek Jakarta, atau dialek Medan.
b.      Dialek sosial
Dialek yang dipakai oleh kelompok sosial tertentu atau yang menandai strata sosial tertentu. Misalnya, dialek remaja.
b)      Dialek temporal
Dialek yang dipakai pada kurun waktu tertentu. Misalnya, dialek Melayu zaman Sriwijaya dan dialek Melayu zaman Abdullah.

B.     Bahasa Ibu ( Bahasa Pertama )
1)      Pengertian Bahasa Ibu
Penguasaan sebuah bahasa oleh seorang anak dimulai dengan perolehan bahasa pertama yang sering kali disebut bahasa ibu . Pemerolehan bahasa merupakan sebuah proses yang sangat panjang sejak anak belum mengenal sebuah bahasa sampai fasih berbahasa. Setelah bahasa ibu diperoleh maka pada usia tertentu anak lain atau bahasa kedua  yang ia kenalnya sebagai khazanah pengetahuan yang baru.
Ali (1995:77) mengatakan bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak awal hidupnya melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya, seperti keluarga dan masyarakat lingkungan. Hal ini menunjukkan bahasa pertama  merupakan suatu proses awal yang diperoleh anak dalam mengenal bunyi dan lambang yang disebut bahasa.Apabila dalam proses awal menunjukkan pemahaman dan penghasilan yang baik dari keluarga dan lingkungan bahasa yang diperolehnya, proses pemerolehan bahasa selanjutnya akan mendapatkan kemudahan. Tahapan-tahapan berbahasa ini memberikan pengaruh yang besar dalam proses pemerolehan bahasa anak. Pemerolehan bahasa adalah proses pemahaman dan penghasilan (produksi) bahasa pada diri anak melalui beberapa tahap mulai dari meraban sampai fasih berbicara (Indrawati dan Oktarina, 2005:21).
 kedua akan dikuasai secara fasih apabila bahasa pertama  yang diperoleh sebelumnya sangat erat hubungannya (khususnya bahasa lisan) dengan bahasa kedua tersebut. Hal itu memerlukan proses, dan kesempatan yang banyak. Kefasihan seorang anak untuk menggunakan dua bahasa sangat tergantung adanya kesempatan untuk menggunakan kedua bahasa itu. Jika kesempatan banyak maka kefasihan berbahasanya semakin baik (Chaer, 1994:66). Pemerolehan bahasa pertama  sudah barang tentu mempunyai dampak terhadapi anak untuk mendapatkan bahasa kedua  yaitu bahasa Indonesia yang baik dan benar. Apa saja dampak yang kemungkinan muncul akan penulis paparkan dalam tulisan ini.
2)      Dampak Penguasa  Bahasa Ibu
Keanekaragaman budaya dan bahasa daerah mempunyai peranan dan pengaruh terhadap bahasa yang akan diperoleh anak pada tahapan berikutnya. Sebagai contoh seorang anak yang orang tuanya berasal dari daerah Melayu dengan lingkungan orang Melayu dan selalu menggunakan bahasa Melayu sebagai alat komunikasi sehari-hari, maka anak itu akan mudah menerima kehadiran bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua  di sekolahnya. Tuturan bahasa pertama yang diperoleh dalam keluarga dan lingkungannya sangat mendukung terhadap proses pembelajaran bahasa kedua yaitu bahasa Indonesia. Hal ini sangat dimungkinkan selain faktor kebiasaan juga bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Lain halnya jika kedua orang tuanya berasal dari daerah Jawa dengan lingkungan orang Jawa tentu dalam komunikasi sehari-hari menggunakan bahasa Jawa akan mengalami kesulitan untuk menerima bahasa kedua yaitu bahasa Indonesia yang dirasakan asing dan jarang didengarnya.
Selain dua situasi di atas juga berbeda dengan pasangan orang tua yang berasal dari daerah yang berbeda dengan bahasa yang berbeda pula dan lingkungan yang berbeda dengan kedua bahasa orang tuanya maka anak akan memperolah bahasa yang beraneka ragam ketika bahasa Indonesia diperolehnya di sekolah akan menjadi masukan baru yang berbeda pula.
Orang tua dan lingkungan mempunyai andil besar terhadap pemerolehan bahasa yang akan dipejarinya di lembaga formal. Dijelaskan dalam aliran behavioristik Tolla dalam Indrawati dan Oktarina (2005:24) bahwa proses penguasaan bahasa pertama dikendalikan dari luar, yaitu oleh rangsangan yang disodorkan melalui lingkungan. Sementara Tarigan dalam Indrawati dan Oktarina (2005:24) mengemukakan bahwa anak mengemban kata dan konsep serta makhluk social. Tarigam memadukan bahwa konsep pemerolehan belajar anak berasala dari konsep kognetif serta perkembangan sosial anak itu sendiri. Adapun perkembangan sosial itu sendiri idak terlepas dari faktor orang-orang yang kehadirannya ada di lingkungan diri anak. Orang-orang yang dimaksud adalah teman, saudara dan yang paling dekat adalah kedua orang tua yaitu ayah serta ibunya. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan oleh kedua orang tua sebagai orang yang pertama kali dekat dengan diri anak ketika menerima bahasa pertama sangat berdampak terhadap anak dalam tahapan pemerolehan bahasa kedua.



BAB  III
Pembahasan

            Berdasarkan hasil pengamatan yang penulis lakukan di SMP , dari beberapa narasumber , mereka berasal dari beberapa daerah yang bersekolah di sana.  Hanya 10 % siswa yang berasal dari luar daerah menggunakan Bahasa Indonesia secara baik. Namun lama kelamaan mereka juga terpengaruh dengan dialek dan bahasa daerah yang ada di sekolah tersebut. Selanjutnya 90 % dari keberadaan siswa mereka menggunakan bahasa daerah sebagai pengantar komunikasi baik dalam pergaulan maupun dalam pembelajaran di sekolah.
            Bagi mereka bahasa pertama sangat mempengaruhi kegiatan berkomunikasi. Kemampuan berkomunikasi  dengan menggunakan Bahasa Indonesia sebagai pengantar, sangat berkendala sekali. Dialek dan kata-kata dalam bahasa daerah masih rentan masuk bergabung dalam memakai Bahasa Indonesia. Kata doh diakhir kalimat dalam perkataan cendrung mendominasi. Kemudian kata awak  juga terbawa dalam berbicara dalam Bahasa Indonesia.  Dialek yang mereka gunakan pun sangat kental menampakkan ciri seorang berasal dari salah satu daerah di Sumatera Barat ini. Kata-kata Begini  menjadi beginii  vokal akhirnya agak lebih panjang jedanya dalam berucap.  selanjutnya kata-kata ado  atau ada   sering terbawa dalam ucapan mereka tanpa disadari. Misalnya, kita bertanya ” Apakah bapak Kepala Sekolah ada? Mereka menjawab, ” Bapak ado di dalam, Pak ! ” dalam kantor beliau. Disini nampak bagi penulis  belum sepenuhnya siswa mampu untuk bersosialisasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia.
            Penyebabnya yang sangat kentara diamati penulis adalah tidak adanya komitmen dan kesepakatan antara guru dan siswa untuk melakukan komunikasi dengan Bahasa Indonesia dalam lingkungan sekolah. Dengan kondisi kebiasaan dari masyarakat sekolah yang tidak membiasakan berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia maka susah untuk menerapkan pada diri siswa. Bagi siswa dengan kondisi kebiasaan sehari-hari mereka berkomunikasi dengan logat dan bahasa daerahnya masing-masing. Sehingga fenomena ini terbawa dalam lingkungan sekolah.
            Kurangnya siswa berlatih dengan kegiatan-kegiatan formal, mengakibatkan bahasa pertama mendominasi dalam berbahasa siswa di sekolah. Juga kurang sosialisasi dari para guru dalam  berbahasa Indonesia di sekolah. Lebih dari separoh guru menggunakan bahasa daerah sebagai pengantar.


BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Penggunaan Bahasa Indonesia dalam lingkungan sekolah belum secara sempurna terlaksana.
2.      Para siswa dan guru masih banyak menggunakan bahasa daerah atau bahasa pertama sebagai bahasa pengantar.
3.      Pengguanaan Bahasa Indonesia oleh siswa di sekolah masih dipengaruhi oleh dialek dan penggunaan bahasa daerah.
4.      Belum adanya ketegasan dan kesepakatan secara tertulis dan lisan bagi warga sekolah untuk menggunakan Bahasa Indonesia sebagai pengantar.
B.       Saran
Penggunaan dialek sebaiknya memperhatikan situasi dan kondisi. Apabila sedang berada dalam situasi informal penggunaan dialek dapat ditoleransi sebagai sarana untuk mengakrabkan diri dan kenyamanan dalam berkomunikasi dengan kelompoknya. Namun, jika sedang dalam kondisi formal penutur diharap dapat menempatkan dirinya untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan kaidah yang berlaku, karena tidak semua lawan bicara mengerti bahasa dialek yang digunakan.
           


 
DAFTAR BACAAN

          Arifin, Zainal, E. 1985. Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi.
                           Jakarta : Antar Kota.
Char, Abdul. 1989. Ragam Bahasa Indonesia Yang Baku. Jakarta : PT. Gramedia  Pustaka Utama.
Chaer, Abdul. 2010. Kesantunn Berbahasa. Jakarta : Rineka Cipta.
Chaer Abdul dan Agustina Leonie. 2004. Sosio Linguistik Perkenalan Awal. Jakarta: PT Rineka Cipta
Depdiknas. 1998. Tata bahasa baku Indonesia. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Rohman , Taufik.dkk.2006. Antropologi 1. Jakarta: Yudhistira.
Faizah, Umi17 April 2009.   Bahasa Indonesi, Antara Variasi dan Penggunaan. (online)
Alamt : (www.bahasa-indonesi-antara-variasi-dan-penggunaan) diakses 26 Oktober 2009
          Ibrahim, Abdul Syukur. 1993. Kapita Selekta Sosiolinguistik. Surabaya : Usaha Nasional.
Nurudin. 2004. Sistem Komunikasi Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Persada.
          Sumarsono dan Paina Partana. 2002. Sosiolinguistik. Yogyakarta : Sabda