Senin, 07 Maret 2016

Sastra Bandingan



 BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar  Belakang
Sastra merupakan komunikasi antara sastrawan dan pembacanya. Bentuk komunikasi itu berupa karya sastra. Bentuk komunikasi ternyata melahirkan berbagai kejadian dalam teori sastra. Setiap kajian itu ada yang menitikberatkan kejadiannya pada diri sastrawan.  Ada juga yang menitikberatkan kajiannya pada kesusastraan antara karya sastra dan alam semesta.
Berkembangnya budaya  menjadi  titik tolak perkembangan dari sastra. Sastra merupakan hasil karya manusia, buah  pikiran baik lisan maupun tulisan.  Semakin maju sebuah budaya maka perkembangan sastranya pun makin maju pula.  Bila kita lihat perkembangan karya sastra dari zaman tradisional, banyak cerita-cerita yang bermunculan ditengah-tengah masyarakat menjadi sebuah acuan bagi masyarakat itu untuk bertindak. Di Minangkabau dapat kita contohkan adanya Kaba Lembak Tuah, Rancak Dilabuah, Sabai Nan Aluih, hal itu masih menggema sampai sekarang. Begitu juga di daerah lain Pulau Jawa misalnya, cerita babad tanah Jawa, Tutur Tinular. Kesemuanya itu merupakan terkait dengan budaya dan  kondisi sosial masyarakat.
Era perkembangan dewasa ini, kesusastraan itu berkembang lebih maju. Siring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, karya sastrapun berubah dalam segi tema dan  isinya. Dulu lebih banyak mengarah kepada kepercayaan, sekarang banyak mengarah kepada kondisi social masyarakat dengan perkembangan remaja.  Kaum muda lebih mendominasi dalam perkembangan sastra dalam dekade ini.  Karya sastra yang muncul lebih cendrung pada sastra romantis dan percintaan dalam  segi temanya. Sastra ini lebih dikenal dengan sastra populer atau sastra remaja.
B.     Tujuan Penulisan
Penulisan  ini bertujuan  untuk:
1.       Membahas  tentang seluk beluk sastra populer dan kebudayaan massadalam kerangka supra nasional. 
2.      Dari pembahasan ini hendaknya kita dapat memahami  tentang perkembangan sastra modern yang bermunculan disaat ini.
3.      Memahami perkembangan sastra yang dipengaruhi oleh kebudayaan massa serta prilaku masyarakat dibidang politik atau ekonomi.



BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian Sastra Populer
Sastra populer adalah sastra yang populer pada masanya dan banyak pembacanya, khususnya pembaca di kalangan remaja. Sastra populer tidak menampilkan permasalahan kehidupan secara intens. Sebab jika demikian, sastra populer akan menjadi berat dan berubah menjadi sastra serius (Nurgiyantoro, 1998: 18).  Perkembangan sastra populer  sangat  gencar-gencarnya sejak tahun 70-an keatas.  Seiring  munculnya pengarang-pengarang baru dalam bidang karya sastra, seperti  Mira,W dan Habubirrahman El Shirazy kemudian yang terbaru seperti Ahmad Fuadi. 
Sastra populer umumnya bersifat artificial atau sementara. Walau dalam karya tersebut terdapat pemahaman berupa motivasi atau pelajaran, namun karya tersebut berlaku hanya semasa-semasa.  Sastra populer lebih banyak bertujuan untuk menghibur. Menurut  Kayam (1981:82) sastra  populer adalah semacam sastra yang dikategorikan sebagai  sastra hiburan dan komersial. Sastra populer lebih mengarah kepada kebutuhan selera pembacanya. Karya ini akan dilupakan setelah muncul karya baru yang lebih menarik sesudahnya.
Jenis sastra populer berbagai macam, dapat berupa tulisan berbentuk esai dan juga bisa berbentuk fiksi. Fiksi adalah karya rekaan yang dapat berbentuk novel atau juga film. yang dahulunya fiksi populer ini tidak menempati tempat yang penting dalam sejarah kesusastraan, baik di Indonesia maupun di dunia. Bahkan di Indonesia dulunya sastra populer ini apabila dalam bentuk novel, maka kemudian akan disebut sebagai novel picisan, istilah picisan ini sendiri berasal dari “uang picis” (satu sen). Sedangkan di Amerika sastra populer pernah disebut sebagai low-brow literature, kitch atau tulisan picisan, dan dime novels.
Dalam konteks Indonesia, bentuk sastra populer dapat diasumsikan sebagai kesusastraan Indonesia modern yang berkembang setelah Indonesia menerima kebudayaan Eropa modern yaitu abad ke-17 an, walaupun baru terasa abad ke-19 sejak terbitnya surat kabar berbahasa melayu yang di dalamnya memuat cerita bersambung yang ditulis dengan bahasa sehari-hari yang mudah difahami sehingga banyak dibaca banyak orang sesuai dengan orientasi sastra populer memenuhi kebutuhan dan keinginan pembaca. 
Banyak ahli yang mendefenisaikan sastra populer ini. Ida Rhocani Adi (2011:24) mendefenisikan sastra populer (populer literature) sebagai tulisan yang diterima oleh masyarakat banyak. Maksudnya diterima di sini adalah dikonsumsi banyak masyarakat yang dilihat dari jumlah penjualannya. Dalam kaitan ini populer berarti berhasil.
Selanjutnya Nurgiyantoro (1998: 18) menyatakan bahwa sastra populer adalah sastra yang populer pada masanya dan banyak pembacanya, khususnya pembaca di kalangan remaja. Sastra populer tidak menampilkan permasalahan kehidupan secara intens. Sebab jika demikian, sastra populer akan menjadi berat dan berubah menjadi sastra serius. Artinya sastra populer umumnya bersifat artificial atau sementara. Walau dalam karya tersebut terdapat pemahaman berupa motivasi atau pelajaran, namun karya tersebut berlaku hanya semasa-semasa. Sastra populer lebih banyak bertujuan untuk menghibur.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa sastra populer adalah sastra diterima oleh masyarakat banyak yang kemudian dikonsumsi banyak masyarakat yang dilihat dari jumlah penjualannya yang umumnya bersifat artificial atau sementara. Beberapa sastra populer nasional dan mancanegara yang mendapat perhatian dikalangan  masyarakat dapat kita contohkan adalah diantaranya  trilogi lakar pelangi, Harry Potter , salah satu karya sastra yang dapat menempati hati pembacanya dalam lintas Negara. Novel tersebut digandrungi oleh banyak kalangan terutama remaja.
Beberapa sastra mancanegara yang mendapat perhatian dikalangan  remaja dapat kita contohkan Harry Potter , salah satu karya sastra yang dapat menempati hati pembacanya dalam lintas Negara. Novel tersebut digandrungi oleh banyak kalangan terutama remaja. Berkembangnya sastra popular ini tak terlepas dari kondisi dan budaya massa, yang bertitik tolak paa aspek finansial.
B.     Hakikat  Sastra Populer
 Pada hakikatnya sastra populer merupakan karya sastra yang hadir semasa demi semasa. Sastra populer bersifat artifisial dan sementara. Kehadiran sastra populer hanya untuk memenuhi selera pembaca. Kita bisa melihat kehadiran sastra  zaman sekarang, seperti novel trilogi yang didalamnya terdapat beberapa motifasi, sebagai tambahan nilai untuk pembaca, tapi berotientasi pada finansial. Dibandingkan dengan sastra dari pengarang angkatan lama, yang mengungkapkan kondisi masyarakat, hakikat kehidupan, bahkan perjuangan, kisah percintaan, mereka tak mengutamakan nilai secara finansial.
Berikut ini adalah pendapat ahli sastra yang memberikan batas penggolongan ciri-ciri sastra populer  :
1.      Abraham Kaplar
Penggolongannya berdasarkan segi bentuk sastra populer memiliki bentuk,
·         Sederhana, artinya struktur pembangun ceritanya tidak rumit.
·         Pernyataan langsung,artinya tanpa kualifikasi, dengan jelas dipaparkan  secara langsung tidak bertele-tele.
·         Stereotype, artinya pola struktur mirip antara satu novel dengan novel lainnya.
·         Skematis, dalam artian struktur dan formula mudah diskemakan.
Penggolongan berdasarkan segi perasaan dalam sastra populer
·         Hiburan, artinya pembaca dibiarkan asyik dengan dirinya sendiri.
·         Sentimentil, artinya mengandung perasaan yang berlebihan.
2.      Budi Dharma
Ciri-ciri dari sastra populer atau yang disebutnya sebagai sastra hiburan adalah:
·         Tokohnya tampan, atau juga cantik jika perempuan, kaya.
·         Dicintai dan dikagumi.
·         Sanggup mengatasi segala macam masalah dengan mudah.
·         Pembaca dipancing untuk melakukan identifikasi diri seolah dirinya adalah tokoh itu sendiri.
3.      Jacob Sumarjo
·         Romantis sentimentil.
·          Judul sensasional.
·         Tema cinta/ rumah tangga.
·         Memiliki alur yang manis, lurus, dan penuh kejutan.
·         Dialog kontemporer.
·         Latar berupa keluarga, kampus, tempat hiburan dan lain-lain.
·         Perwatakan spektakuler dan explosive.
·         Happy ending/ sad ending yang cenderung tragis
Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas, maka dapat ditarik kesimpulan adapun ciri-ciri dari sastra populer adalah sebagai berikut :
1.      Tidak terlalu serius. Isi karya-karya sastra populer tidaklah terlalu serius seperti halnya karya sastra di era balai pustaka sebut saja Siti Nurbaya, Mencuri Anak Perawan, Tenggelamnya Kapal Var Der Wijk dan sebagainya. Salah satu jenis karya sastra populer yang tidak serius yakni teenlit yang berisi kisah-kisah percintaan remaja.
2.      Banyak dikritik. Untuk menaikkan popularitas sebuah karya sastra diperlukan banyak kritikan baik positif dan bahkan negatif karena hal ini akan memancing curiosity of public untuk membeli karya sastra tersebut.
3.      Komersial. Sastra populer cenderung dibuat untuk mendapatkan keuntungan dari penjualannya.
4.      Situational. Karya-karya sastra populer hanya terkenal sementara saja. Jika ada karya yang muncul setelahnya maka cenderung karya sastra sebelumnya itu akan tenggelam.
5.      Kontemporer. Kontemporer dalam sastra adalah perpaduan berbagai unsur gaya kepenulisan dalam sebuah karya sastra. Dalam hal ini karya sastra bisa berupa perpaduan unsur klasik dan unsur modern.
6.      Over fictional. Sastra populer saat ini dibuat dengan imajinasi yang sangat tinggi dan jauh dari kesan peristiwa-peristiwa yang lazim terjadi di dunia nyata sebut saja Harry Potter.



BAB III
Kebudayaan Massa
Kebudayaan dapat dikatakan sebagai suatu sistem dalam masyarakat yang menjadi tempat terjadinya interaksi antar individu/kelompok dengan individu/kelompok lain sehingga menimbulkan suatu pola tertentu, kemudian menjadi sebuah kesepakatan bersama (baik langsung ataupun tidak langsung), yang kemudian ada istilah dalam kebudayaan ini dengan sebutan kebudayaan massa atau budaya massa yang dalam bahasa inggris yaitu (mass culture).
Pengertian budaya massa budaya massa di Indonesia ini terlebih dahulu akan didekati secara teoritik. Apa itu budaya massa? Secara sederhana budaya massa (mass culture) serupa dengan budaya popular dalam basis penggunanya: Masyarakat kebanyakan. Namun, berbeda dengan budaya popular yang tumbuh dari masyarakat sendiri dan digunakan tanpa niatan profit, budaya massa diproduksi lewat teknik-teknik produksi massal industri. Budaya tersebut dipasarkan kepada massa (konsumen) secara komersial. Budaya ini kemudian dikenal pula sebagai budaya komersial yang menyingkirkan budaya-budaya lain yang tidak mampu mencetak uang seperti budaya elit (high culture), budaya rakyat (folk culture) dan budaya popular (popular culture) yang dianggap ketinggalan zaman. Jika budaya elit (high culture), folk culture, dan budaya popular tidak mampu mencetak uang, untuk apa ia dikembangkan dan dipelihara? Demikian retorika kasar para produsen mass culture.
Produsen budaya massa melihat para penerima budaya sebagai pasif, lembek, mudah dimanipulasi, mudah dieksploitasi, dan sentimentil. Bertindak selaku agen dari budaya massa ini media massa. Televisi, radio, majalah, surat kabar, dan internet menempati posisi penting selaku agen budaya. Sementara produsen dari budaya massa adalah para pemilik pabrik barang (pakaian, kosmetika, kendaraan) dan jasa (produser, penerbit, konsultan marketing, event organizer, manajer artis). 
Menurut Bennet dan Tumian, kebudayaan massa adalah, “ Seperangkat ide bersama dan pola Perilaku yang memintas garis sosio-ekonomi dan pengelompokan sub-kultural dalam suatu masyarakat yang kompleks”. Kemudian budaya massa adalah budaya popular yang menghasilkan industri produksi massa dan dipasarkan untuk mendapatkan keuntungan pada khalayak konsumen.
Kebudayaan Massa sebagai salah satu  kecendrungan dari  masyarakat  penikmat sebuah hasil karya sastra yang bermunculan dalam priode-priode tertentu.  Pada saat tahun  90-an, kalangan remaja cendrung dengan cerita bersambung Ko Ping Ho yang disadur oleh Asmaraman . Kemudian  cerita Harry Potter,  beberapa decade  digandrungi oleh pembaca.  Pada era sekarang tahun 2000-an, karya sastra anak bangsa juga banyak diminati, misalnya Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, selanjutnya  Ahmad Fuadi dengan novel  Negeri Lima Menara, Rantau Satu Muara, yang kemudian menjadi  trend bagi kalangannya remaja. Peminat novel ini dalam masyarakat pembaca sangatlah tinggi. Novel lain yang juga diminati adalah  novel Ayat-ayat Cinta Oleh  Habiburrahman El Shirazy dan Ketika Cinta bertasbih yang kesemuanya ini menduduki rangking teratas bagi  pembacanya.
Kebudayaan massa yang tumbuh dan berkembang drastis ini sekaligus menyebabkan pengkajian terhadap akar tradisi budaya dan juga pengkajian silang antarbudaya yang sungguh-sungguh dari para sastrawan dan cerpenis belum tergarap secara maksimal sebagaimana tampak pada hasil-hasil karya mereka.
Salah satu penyebabnya merebaknya kebudayaan massa ini adalah industri media cetak, elektronik maupun penerbitan. Dimana efek dari industri media cetak, elektronik maupun penerbitan adalah sedikit banyak akan mempengaruhi dunia kepengarangan. Ini bisa dilihat dari banyaknya lahir para pengarang, bahkan pengarang muda belia dengan berbagai karya sastra yang memperlihatkan ciri estetika tersendiri. Hal ini sesungguhnya dapat dipahami, karena Sesiapa pun dengan mudah dapat memublikasikan hasil karyanya dengan cara apa saja. Pengarang yang memiliki kapital bahkan bisa memodali penerbitan karyanya sendiri, tentu setelah melalui kalkulasi perhitungan bisnis. Dan kemudian Dunia popularitas dan pencitraan juga  muncul sebagai efek samping dari dunia industri media cetak dan penerbitan tersebut.
Munculnya fenomena baru di dalam proses penciptaan, penerbitan, dan pemublikasian karya sastra Indonesia memunculkan pertanyaan lainnya, yaitu apakah masih penting dan relevan membicarakan aspek estetika karya secara dikotomi. Bagaimana menjelaskan fenomena tentang seorang siswa SMP, dengan uang tabungannya menerbitkan karya yang mereka tulis yang mereka sebut sebagai novel atau cerpen, dan kemudian karya mereka itu terbukti laris, laku, disukai, dan digemari oleh pembaca (seusia) nya. Mereka menulis apa yang mereka namakan cerpen dan novel itu menurut ukuran mereka sendiri.
Jadi, tidak ada lagi kepedulian dengan berbagai pakem dan aturan tentang apa yang sebut cerpen dan novel sebelumnya.  Apa yang mereka anggap menarik untuk ditulis mereka tulis dan apa yang mereka anggap tidak perlu ditulis mereka tinggalkan. Mereka begitu menikmatinya di dalam menghasilkan karya, menerbitkannya, hingga menikmati efek samping yang mereka peroleh dari kesemuanya itu, yaitu popularitas dan dunia pencitraan. Juga bagaimana sebaiknya juga harus menjelaskan fenomena “meledaknya” novel Laskar Pelangi  dan novel Ayat-Ayat Cinta di dalam kancah penerbitan.
Apalagi setelah novel-novel ini difilmkan dan ditonton oleh begitu banyak orang, bahkan oleh para pemimpin negara. Ketika para pembesar negeri ini menonton film-film itu, media massa memublikasikannya secara fantastis. Apakah dapat dijelaskan melalui suatu kajian teoretis bahwa kedua novel ini keunggulan estetikanya memang melebihi novel Keluarga Gerilya, novel Mereka yang Dilumpuhkan karya Pramudya Ananta Toer dan novel Olenka karya Budi Darma.
Situasi kebudayaan massa ini tampaknya ikut mempengaruhi sebagian besar sastrawan kita di dalam upaya menerbitkan karya-karya mereka. Hubungan antara sastrawan dan penerbit tidak sekadar urusan benefit, tetapi mungkin lebih pada aspek profit. Penerbit punya kekuatan untuk mengatur apa yang mungkin disebut sastra, baik persoalan jenis karya maupun dalam hal tematik dan stilistik.





Cuplikan karya sastra yang termasuk populer: Negeri Lima Menara
Pesan dari Masa Silam
W ashingt on DC, Desember 2003, jam 16.00
Iseng saja aku mendekat ke jendela kaca dan menyent uh pe rmukaannya dengan ujung telunjuk kananku. Haw a dingin segera menjalari w ajah dan lengan kananku. Dari ba lik kerai t ipis di  lant ai empat  ini,  salju  t ampak t urun  menggumpal- gumpal  sepert i  kapas  yang  dituang  dari  langit.  Ketukan- ketukan halus terdengar set iap gumpal salju menye nt uh kaca di de panku. Mat ahari sore  menggant ung condong ke  barat be rbent uk piring put ih susu.
T idak jauh, t ampak T he Capitol, gedung parlemen Amerika Se rikat  yang  anggun putih  gading,  be rgaya  klasik  de ngan t onggak-t onggak  besar.  Kubah  raksasanya  yang  be rundak- undak  semakin  memut ih  dit aburi salju,  bagai mengenakan kopiah haji. Di de pan gedung ini, hamparan pohon american elm  yang biasanya  rimbun  kini  t inggal dahan-dahan t anpa daun yang dibalut serbuk es. Sudah 3 jam salju t urun. T anah bagai dilingkupi pe rmadani put ih. Jalan raya yang lebar-lebar mulai dipadati mobil karyawan yang be ringsut -ingsut pulang. Berbaris  sepert i semut. Lampu rem yang hidup-mat i-hidup- mati memantul merah di salju. Sirine polisi—atau ambulans— sekali-sekali mengge rt ak diselingi bunyi klakson.
Udara hangat yang berbau agak hangus dan kering menderu-deru  keluar  dari alat  pemanas di  ujung ruangan. Mesin ini mengge ram-geram karena bekerja maksimal. W alau be git u,  badan  setelan  melayuku  t etap  menggigil melaw an suhu yang anjlok sejak be berapa jam lalu. T elevisi di ujung ruang kant or menayangkan Weather Channe l yang mencat at suhu di luar minus 2 de rajat celcius. Lebih dingin dari secaw an es t ebak di Pasar Ateh, Bukitt inggi.
Aku suka dan benci de ngan musim dingin. Benci karena harus membebat diri dengan baju tebal yang berat . Yang lebih menyebalkan, kulit tropisku be rubah kering dan gat al di sana- sin i.  T api aku  selalu  t erpesona  melihat  bangunan,  pohon, t aman dan kota diselimut i salju put ih be rkilat-kilat. Rasanya tenteram, ajaib dan aneh.  Mungkin karena sangat  berbeda de ngan alam kampungku di Danau Man injau yang serba biru dan  hijau.  Se telah  dipik ir-p ikir,  aku  siap  gat al  daripada melewatkan pesona w int er t ime seperti hari ini.
Kant orku berada di Inde pendence Avenue, jalan yang selalu riuh  de ngan pe jalan kaki dan  lalu  lint as mobil. Diapit  dua tempat t ujuan w isat a t erkenal di ibukot a Amerika Se rikat, T he Capitol  and T he  Mall,  t empat  be rpusatnya  aneka  museum Smit hsonian yang t idak bakal hab is d ijalani sebulan.  Posisi kantorku  hanya  sepelemparan  bat u  dari  di  T he  Capitol, be berapa be las menit naik mobil ke kant or George Bush di Gedung Put ih,  kant or Colin Powell di Department  of St ate, markas FBI, dan Pent agon. Lokasi imp ian banyak w art aw an.
W alau   dingin   mencucuk   tulang,   hari   ini   aku   lebih be rsemangat  dari biasa.  Ini  hari t erakhirku  masuk  kant or sebelum te rbang ke Eropa, unt uk tugas dan sekaligus urusan pribadi. T ugas liput an ke London untuk w aw ancara dengan T ony  Blair,  pe rdana  ment eri  Inggris,  dan  misi  pr ibadiku menghadiri undangan T he W orld  Inter-Fait h  Forum.  Bukan sebagai  pe liput ,  t api  sebagai  salah  satu  panelis.  Se bagai w art aw an  asal  Indone sia  yang  berkantor  di  AS,  kenyang meliput isu muslim A merika, t ermasuk serangan 11 September 2001.
Kamera, digital reco rder, dan t iket aku be namkan ke ransel National Geographic hijau pupus. Semua lengkap. Aku jangkau gantungan baju di dinding cubicie-ku. Jaket hitam selut ut aku kenakan dan syal cashmer cokelat tua, aku be bat kan di leher.
Oke, semua be res. T anganku sege ra be rgerak melipat layar
Apple Pow erBook-ku yang berw arna perak.
Ping… bunyi halus dari messenge r menghent ikan t anganku. Layar be rbahan t it anium kembali aku kuakkan. Se buah pesan pe nde k muncul be rkedip-kedip di ujung kanan monitor. Dari seorang  be rnama “Bat ut ah”. T api aku t idak  kenal seorang “Batut ah” pun.
“maaf, ini alif dari pm? Jariku ce pat menekan t ut s. “bet ul, ini siapa, ya?”
Diam sejenak. Sebuah pesan baru muncul lagi. “alif anggota pasukan Sahibul Menara?” Jant ungku  mulai be rdegup  lebih cepat. Jariku menari ligat di ke yboard.
benar, ini siapa sih!!” ba lasku mulai t idak sabar. “menara keempat, ingat gak?”
Se kali  lag i  aku  eja  lambat-lambat   me-na-ra  ke-em- pat .T idak  salah  baca.  Jant ungku  seperti  ditabuh  cepat . Pe rut ku t erasa dingin. Sudah lama sekali.
Aku bergegas menghent ak-he nt akkan jari:
“masya Allah, ini ente, at ang bandung? sut radara Batut ah?” “alhamdulillah,      akhirnya      ket emu      juga      saudara seperjuanganku….
“atang, di mana ent e sekarang?” “kairo.
Belum  sempat  aku  menget ik  lagi,  bunyi  ping  terdengar be rkali-kali. Pe san de mi pesan masuk bertubi-t ubi.
“ana lihat nama e nt e jadi panelis di london minggu depan.
“ana juga datang mewakili a l azhar unt uk ngomongin pe ran muslim melayu di negara arah”
“kit a bisa reuni euy. raja kan juga di london.”
“kit a suruh dia jad i guide ke t rafalgar square seperti yang ada di buku reading di ke las t iga dulu.
Aku tersenyum. Pikiranku langsung terbang jauh ke masa lalu. Masa yang sangat kuat terpatri dalam hatiku.

            Pada cuplikan novel di atas, jelas Nampak bagi kita cirri dari sastra popular itu. Dari segi bahasa memaki bahasa kotemporer, dengan memamsukkan kata-kata secara bebeas dalam  cerita itu. Misalnya kata-kata  (ente) yang  bukan kata-kata baku. Kemudian dari segi tipe, cuplikan novel diatas  nampak jelas sama satu dan yang lainnya. Dimulai dari perjuangan pengalaman hidup, bergaul, berpisah dan bertemu kembali. Kisah kisah yang muncul dalam novel hampir sama dengan cerita atau kisah novel lainnya.
Novel Harry Potter dan Batu bertuah
“….darah Unicorn telah membuatku semakin kuat beberapa minggu terakhir ini…dan begitu aku minum cairan kehidupan ini, aku akan bisa menciptakan tubuhku sendiri ..nah,,sekarang ..berikan batu di sakumu itu ( Rowling:362)
“…. Selama sepersekian detik tampaknya Dumbledore menggantung di bawah tengkorak yyang bersinar, dan kemudian berlahan dia jatuh ke belakang, seperti boneka kain besar, melewati benteng dan lenyap dari pandangan”( Rowling, : 748)
Dalam teks novel Harry Potter di atas sangat jelas terlihat bahwa yang ditonjolkan adalah ciri over Fictional dalan artian imajinasi yang sangat tinggi dan jauh dari kesan peristiwa-peristiwa yang lazim terjadi di dunia nyata. Juga masalah hidup dan mati yang di kemas dalam novel itu turut menjadi wahana untuk memancing emosi pembaca. Apakah mungkin tengkorak bersinar, sapu yang bisa terbang? Semuanya ini sangat tidak masuk logika.

Daftar Pustaka

Adi, Ida Royani. 2011, “Fiksi Populer teori dan Metode Kajian”. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
Budianta, Melani, dkk. 2003. “Membaca Sastra”.Magelang. Indonesia Tera.
Darma, Budi. 2004. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikian Nasional.
Fuadi, Ahmad. 2009. Negeri Lima Menara. Jakarta: Gramadia.
Purba, Antilan, 2010. “Sastra Indonesia Komtemporer”. Yogyakarta. Graha Ilmu.
Ratna, Nyoman Khuta. 2010, “ Sastra dan Kultural Studies Representasi Fiksi dan Fakta”. Denpasar. Pustaka Pelajar.
http://maknaih.wordpress.com/category/hasanuddin-ws/ diakses tanggal 15 september 2013.
http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/artikel/1132.