Senin, 07 Maret 2016

Linguistik Mutakhir



BAB I
Pendahulan
A.    Latar belakang
             
            Dewasa ini pola-pola yang ada dalam Bahasa Indonesia sudah hampir tak relevan lagi dengan tatabahasa yang digunakan sebagian kalangan. Pola komunikasi dan struktur kebahasaan cendrung berbeda antara tatabahasa dan fenomena dari pemakaian bahasa itu sendiri. Perkembangan itu sangat dinamis sekali pola kalimat S – P – O – K tidak bisa  lagi dibakukan secara menoton. Penggunaan kaidah bahasa yang semakin kian cenrung berubah sesuai dengan konteks dan fungsinya, menimbulkan suatu bentuk studi dalam linguistic yakni sintaksis funsgsional.
            Dalam konteks tuturan misalnya, kata perintah tidak selalu dibunyikan dengan kalimat “tolong” , atau tak selalu dengan kaimat perintah, bahkan konteks perintah dapat dilaksanakan dalam  tata kalimat interogatif. Banyak kalimat yang secara pola benar tapi secara funsgi tak bisa berterima dalam konsep pemahaman. Maka fungsionalnya sebuah bahasa diperlukan. Keefektifan dalam berbahasa sangat dituntut dalam menyampaikan maksud pada lawan bicara.
Salah satu aliran telaah bahasa yang termasuk pada linguistik modern yaitu tata bahasa fungsional. Tata bahasa fungsional berpandangan bahwa bahasa merupakan instrumen simbolik yang digunakan untuk maksud komunikasi. Pandangan tata bahasa fungsional yang mendasar adalah bahwa struktur bahasa tidak akan dipahami secara baik atau benar bila prinsip pragmatik diabaikan. Studi sintaksis dan semantik dipandangnya sebagai dasar konvensi pragmatik yang menentukan penggunaan bahasa sebagai interaksi verbal sintaksis membentuk kemampuan gramatikal untuk mengekspresikan bahasa, sedangkan pragmatik berkemampuan menggunakan ekspresi bahasa secara cocok yang ujung-ujungnya adalah demi terwujudnya keberhasilan sebuah komunikasi. Oleh karena itu, dalam menganalisis bahasa, tata bahasa fungsional melibatkan fungsi sintaksis, fungsi semantik, dan fungsi pragmatik.

B.     Tujuan Pembahasan
Tujuan pembahasan sintaksis fungsional dalam makalah ini adalah:
1.      Untuk mengetahui seluk- beluk pemakaian kaidah bahasa secara lebih mendalam.
2.      Mengurai perlunya perubahan kepada yang modern yakni linguistic fungsional dalam pemakaian bahasa secara lisan dan tulisan.

BAB II
URAIAN MATERI
SINTAKSIS FUNGSIONAL

A. Pengertian Sintaksis
Dalam pembicaraan tentang sintaksis, bidang yang menjadi lahannya adalah unit bahasa berupa kalimat, klausa dan frase. Manusia dalam bertutur sapa, berkisah, atau segala sesuatu yang dapat dikatakan sebagai berbahasa, selalu memunculkan kalimat-kalimat yang diirangkai, dijalin sedemikian rupa, sehingga berfungsi optimal bagi si penutur dalam upaya mengembangkan akal budinya dan memelihara kerjasamanya dengan orang lain.
Sintaksis berasal dari bahasa belanda syntaksis. Dalam bahasa inggris digunakan istilah syntax. Sintaksis adalah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana,kalimat,klausa,frase(Ramlan 2001).
Sedangkan menurut Tarigan sintaksis adalah salah satu cabang atau tatabahasa yang membicarakan struktur kalimat,klausa,dan frase.
misalnya:
-          Saya dan Ali sedang menggambar lukisan pemandangan ketika nenek Aminah sedang memasak nasik goreng
 Contoh di atas dapat diklasifikasikan atas : 
 Satu kalimat :  
-          Saya dan Ali sedang menggambar lukisan pemandangan ketika nenek Aminah sedang memasak nasik goreng
 Dua  klausa   :
(1) Saya dan Ali sedang menggambar lukisan pemandangan;
(2) ketika nenek Aminah sedang memasak nasik goreng
 Enam frasa   : 
(1) Saya dan Ali
(2) sedang menggambar
(3) lukisan pemandangan
(4) nenek Aminah
(5) sedang memasak
(6) nasik goreng


B. Gagasan dan Pandangan Linguistik Fungsional
Linguistik fungsional dipelopori oleh Roman Jakobson dan Andre Martinet, kehadirannya sangat berarti dalam upaya menjembatani kesenjangan (gap) antara linguistik struktural Amerika dan Eropa. Linguistik struktural (Eropa) banyak dipengaruhi oleh gagasan fungsi-fungsi linguistik yang menjadi ciri khas aliran Praha. Trubeckoj terkenal mengembangkan metode-metode deskripsi fonologi, maka R. Jakobson terkenal karena telah menyatakan dengan pasti pentingnya fonologi diakronis yang mengkaji kembali dikotomi-dikotomi F. de Saussure antara lain dikotomi yang memisahkan dengan tegas sinkronis dan diakronis.
Andre Martinet banyak mengembangkan teori-teori aliran Praha. Dengan tulisannya tentang netralisasi dan segmentasi. Pikiran-pikirannya telah memperkaya dan mengembangkan studi linguistik, terutama fonologi deskriptif, fonologi diakronis, sintaksis, dan linguistik umum, disamping ia menerapkan metode dan linguistik modern dengan menaruh perhatian yang luar biasa pada kenyataan bahasa aktual.
Gagasan Jakobson merupakan pengembangan dari pemikiran-pemikiran aliran Praha. Selain fungsi linguistik sebagai ciri khas sekolah Praha, ia juga menyoroti fungsi-fungsi unsur tertentu dan fungsi-fungsi aktivitas linguistik itu sendiri. Jakobson memandang suatu tindak linguistik dari enam sudut, yaitu (1) dalam hubungan dengan pembicara, (2) pendengar, (3) konteks, (4) kontak, (5) kode, dan (6) pesan. Sehingga ia menemukan enam fungsi, yaitu:
1. Ekspresif, berpusat pada pembicara, yang ditujukan oleh interjeksi-interjeksi;
2. Konatif, berpusat pada pendengar, yang ditujukan oleh vokatif dan imperative;
3. Denotative, berpusat pada konteks, yang ditujukan oleh pernyataan-pernyataan faktual,  dalam pelaku ketiga, dan dalam suasana hati indikatif;
4. Phatic, berpusat pada kontak, yang ditujukan oleh adanya jalur yang tidak terputus antara pembicara dan pendengar. Misalnya, dalam pembicaraan melalui telefon, kata-kata ‘hello, ya..ya…, heeh’ yang dipergunakan untuk membuat jelas bahwa seseorang masih mendengarkan dan menunjukan jalur percakapan tidak terputus;
5. Metalinguistik, berpusat pada kode; yang berupa bahasa pengantar ilmu pengetahuan, biasanya berisi rumus-rumus atau lambang-lambang tertentu;
6. Puitis, berpusat pada pesan.


Selanjutnya gagasan dan pandangan Jakobson lain adalah telaah tentang aphasia dan bahasa kanak-kanak. Aphasia yang dimaksud adalah gejala kehilangan kemampuan menggunakan bahasa lisan baik sebagian maupun seluruhnya, sebagai akibat perkembangan yang salah. Gangguan afasik dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni:
1.  Similarity disorders, yang mempengaruhi seleksi dan subtitusi item, dengan stabilitas kmbinasi dan konsstektur yang bersifat relative.
2.  Contiguity disorders, yang seleksi dan subtitusinya secara relative normal sedangkan kombinasi rusak dan tidak gramatikal, urutan kata kacau, hilangnya infleksi dan preposisi, konjungsi, dan sebagainya.
Jakobson juga menekankan pentingnya korelasi-korelasi fonologis sebagai seuntai perbedaan-perbedaan arti yang terpisah.  Menurut buku Jakobson dan Halle Fundamentals of Language, 1956, menyatakan ciri-ciri expressive, configurative, dan distinctive:
1.  Expressive, meletakan tekanan pada bagian ujaran  yang berbeda atau pada ujaran yang berbeda; menyarankan sikap emosi pembicara;
2.  Configurative, menandai bagian ujaran ke dalam satuan-satuan gramatikal, dengan memisahkan ciri kulminatif satu persatu, atau dengan memisahkan membatasinya (ciri-ciri demarkatif);
3. Distinctive, bertindak untuk memperinci satuan-satuan linguistik, dimana ciri-ciri itu terjadi secara serempak dalam untaian, yang berujud fonem. Fonem-fonem dirangkaikan ke dalam urutan; pola dasar urutan serupa itu berujud suku kata. Dalam setiap suku kata terdapat bagian yang lebih nyaring yang berupa puncak. Bila puncak itu berisi dua fonem atau lebih, maka salah satu daripadanya adalah puncak fonem atau puncak suku kata.
Tokoh lain dalam linguistik fungsional adalah Andre Maertinet, ia juga  mengembangkan teori-teori Sekolah Praha. Pikiran-pikiran Martinet mengenai fonologi deskriptif, fonologi diakronis, sintaksis, dan linguistik umum merupakan sumbangan pemikiran bagi linguistik modern. Fonologi sebagai fonetik fungsional harus berdasarkan fakta-fakta dasar atau mengetahui fungsi-fungsi perbedaan bunyi bahasa sebagaimana mestinya.
Martinet mencurahkan perhatian pada fonologi diakronis, dengan mencoba membuat deskripsi murni, dimana fonologisasi dan defonologisasi direkam, disertai keterangan tentang perubahan-perubahan menurut prinsip-prinsip umum. Kriterium interpretasi dasar diberikan oleh dua unsur yang berlawanan: (1) efisiensi dalam komunikasi, dan (2) tendensi pada upaya yang minimum. Ia juga menyatakan analisis fonem ke dalam ciri-ciri distingtif mengungkapkan adanya korelasi-korelasi, dimana sebuah fonem yang terintegrasi dalam untaian korelatif akan menjadi stabil. Ia telah mengembangkan gagasan artikulasi rangkap yang menarik. Ucapan bahasa pertama-tama melalui suatu artikulasi dalam monem-monem yang berupa unit-unit dasar gramatis yang oleh para linguis Amerika disebut morphem. Sejumlah ujaran yang tak terbatas dapat diidentifikasikan oleh monem-monem yang terbatas jumlahnya. Setiap artikulasi melibatkan ekspresi dan isi. Monem adalah satuan dwimuka: ekpresi dan isi. Bagi Martinet, konsep dasar analisis fonologi yaitu fonem sedangkan bagi Jakobson yaitu ciri distingtif.
Martinet juga menerapkan wawasan fungsionalnya pada sintaksis, dan telah mensintesakan teori-teorinya itu dalam tulisan-tulisan yang ringkas dan seimbang: Elements of General Linguistics, dan A Functional View of Language. Didalam karya tersebut dirumuskan dengan jelas perbedaan antara (i) monem fungsional, seperti preposisi, kasus akhiran, yang konetif dan centrifugal yang menunjukkan adanya hubungan diantara satu unsur dengan bagian ujaran; dan (ii) monem pengubah, seperti satuan gramatikal artikel yang centripetal; nilai tunggal atau jamak dan unsur-unsur yang dibutuhkan.
Martinet juga menggarisbawahi juga fungsi sintaksis sebagai gagasan yang sentral. Gagasannya ini berupa kelanjutan wawasan fungsional yang telah disarankan oleh Sekolah Praha. Fungsi-fungsi bahasa dan fungsi-fungsi unsur linguistik sebagai suatu sistem unsur-unsur atau struktur unsur-unsur, dipelajari untuk menjelaskan perbedaan bahasa dengan sistem tanda buatan yang mungkin distrukturkan dalam suatu cara yang sama tetapi tak dapat memiliki fungsi-fungsi yang sama seperti bahasa. Bagaimanapun pandangan struktural itu dapat dirujukkan kembali dengan pandangan fungsional, meskipun hal itu bagi Martinet adalah pelengkap logisnya. Pilihan nama fungsional sebagai pengganti struktural, menunjukkan bahwa aspek fungsional adalah paling membuka pikiran, dan bahwa hal itu tidak mesti dipelajari secara terpisah dari yang lain.

C. Keunggulan Linguistik Fungsional
Pada khasanah kebahasaan, bila memahami gagasan dan pandangan linguistik Fungsional, maka aliran ini sangat mempengaruhi tata bahasa dalam khasanah perkembangan linguistic sebelumnya, sekaligus membuka cakrawala baru agar aspek fungsional menjadi pertimbangan penelitian bahasa. Dengan menelurkan istilah fungsional, praktis landasan yang digunakan dalam melihat bahasa berdasarkan fungsi, khususnya tataran fonologi, morfem, dan sintaksis. Keunggulan aliran ini adalah kita dapat mengetahui bahwa setiap fonem (bunyi) itu memiliki fungsi, sehingga dapat, membedakan arti. Setiap monem (istilah Martinet) yang diartikulasikan memiliki isi dan ekspresi, dengan begitu dapat dilihat fungsinya. Kemudian pada tataran yang lebih besar yaitu sintaksis, aliran ini menekankan pada fungsi preposisi dan struktur kalimat, maksudnya unsur linguistik dalam sebuah kalimat dapat dijelaskan dengan merujuk pada fungsi sehingga ditemukan pemahaman logis yang utuh. Jadi, aliran ini telah berhasil melihat setiap komponen bahasa berdasarkan fungsi dan menginspirasi gagasan adanya relasi antara struktur dan fungsi bahasa.
Sementara dalam dunia sastra, gagasan Jakobson tentang enam fungsi bahasa menjadi pijakan dalam menelaah karya sastra. Idenya tersebut melahirkan istilah model komunikasi sastra, yang memusatkan pada pesan yang terkandung dalam karya sastra. Model ini banyak diadopsi untuk menggali fungsi bahasa dalam wacana baik wacana ilmiah maupun non ilmiah, sastra maupun non sastra.  

D. Kelemahan Linguistik Fungsional
Dalam kebahasaan, aliran ini tentunya memiliki beberapa titik lemah,diantaranya gagasan fungsional tidak menyentuh secara mendalam komponen fungsional untuk menentukan makna dalam penelitian bahasa, seperti pada tataran sintaksis hanya menyebutkan adanya fungsi dalam setiap struktur bahasa, namun tidak menjelaskan terminologi apa saja yang tercakup di dalamnya. Selanjutnya, bagaimana menyusun kalimat yang benar berdasarkan fungsi pun tidak jelas. Demikian halnya pada tataran fonologi dan morfologi. Jadi, kelemahan aliran ini adalah tidak mampu menguraikan fungsi unsur linguistik lebih rinci, khsususnya . pada tataran sintaksis. Dalam struktur kalimat, gagasan aliran ini tidak menjelaskan komponen apa saja yang tercakup dalam aspek fungsional pada kalimat. Sebagaimana kita ketahui ada fungsi lain dalam kalimat yaitu fungsi semantis dan fungsi pragmatis.
Sementara dalam dunia sastra, fungsi bahasa yang dinyatakan oleh Jakobson, ketika diterapkan dalam menganalisis karya sastra memiliki kekurangan. Model komunikasi sastra Jakobson tidak memperhatikan potensi kebahasaan yang lain. Model mengabaikan relevansi sosial budaya. Padahal, sosial budaya memainkan peranan penting dalam memahami makna bahasa, terlebih dalam karya sastra karena di dalamnya melibatkan aspek sosio cultural yang sangat kental. Mengacu pada model komunikasi sastra, karya sastra hanya bertumpu pada pesan yang disampaikan, padahal pemahaman karya sastra sangat tergantung pada pemahaman pembaca. Adanya unsur keterkaitan intertektualitas dan intratekstualitas dalam memahami karya sastra perlu diperhatikan, karena setiap karya sastra tidak ada yang berdiri sendiri. 


E. Aplikasi Linguistik Fungsional dalam Bahasa Indonesia
Lalu, bagaimana aplikasi aliran ini dalam bahasa Indonesia? Ketika berbicara fungsi maka kita harus memahami konsep fungsi dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Bisa jadi konsep yang ditawarkan oleh aliran ini tidak dapat diserap dalam semua bentuk, struktur dan fungsi sesungguhnya dalam bahasa Indonesia. Sebagian kita dapat memperhatikan contoh berikut ini:
Fonologi
Morfologi
Sintaksis
<baku> /b/, /a/, /k/, /u/
<saku> /p/, /a/, /k/, /u/
Me + tulis
Pe + tulis
Letusan Gunung Merapi itu telah menewaskan 200 orang.

I.   Jika dilihat dari contoh fonologi, penggunaan fonem /b/ pada kata <baku> dan /p/ pada <paku> tidak mempunyai makna. Namun karena diposisikan bersama sebagai pasangan minimal (minimal pairs), dimana keduanya daerah artikulasi yang sama yakni bilabial, maka penggunaan fonem /b/ dan /p/ menjadi memiliki fungsi pembeda makna.
II.  Dari aspek morfologi dapat dilihat contoh penggunaan awalan Me- dan Pe-. Awalan me-tulis dan pe-tulis memiliki fungsi pembeda. Me-tulis menjadi ‘menulis’ sebagai kata kerja dan pe-tulis menjadi ‘penulis’. Penggunaan morfem bebas atau kata dasar yang sama namun didahului oleh morfem terikat yang berbeda maka fungsinya pun menjadi berbeda.
III. Selanjutnya dari tataran sintaksis, kalimat tersebut memiliki struktur yang benar. Jika disegmentasikan kalimat itu menjadi /letusan gunung Merapi/, /menewaskan/, dan /200 orang/. Pemenggalan struktur kalimat dilakukan berdasarkan fungsi masing-masing unsur.  
Kemudian penerapan fungsi bahasa menurut Jakobson dapat kita aplikasikan dalam analisis wacana baik berupa teks maupun non-teks. Penerapan aliran fungsional dalam bahasa Indonesia tidak sepenuhnya dapat diterima. Selain adanya konsep bahasa yang berbeda, namun juga sulit mencari padanan istilah dalam bahasa Indonesia. Namun demikian aliran ini sangat mempengaruhi dalam perkembangan tata bahasa bahasa Indonesia. Dengan mengenal fungsional maka kita mengetahui fungsi bahasa bukan hanya sebagai sistem ‘langue’ (istilah Sassure), tetapi juga dalam bentuk tuturan.


BAB III
PEMBAHASAN
SINTAKSIS  FUNGSIONAL

A.      Pembahasan 1
Dalam kajian ini, teori linguistic bersifat holistic. Dalam bahagian ini akan dipaparkan bahagian mengenai fungsi, dengan kaitannya dengan aspek-aspek teoritis lainnya yang disajikan secara tersirat. Fungsi disini diberi pengertian dengan saling ketergantungan antara unsure dari suatu perangkat, sihingga perangkat itu merupakan kebutuhan dan membentuk sebuah strukstur. Disni sintaksis merupakan sebuah struktur dengan leksem yang telah berkategori ( berkelas) sebagai unsure.  Pengertian fungsi tersebut dipergunakan secara ekstern maupun intern. Pengertian ekstern dipergunakan dalam kaitanya dengan hubungan dengan aspek kehidupan manusia.
            Pembahasan lebih lanjut akan membahas tentang fenomena yang menyatukan dunia makna dengan dunia bunyi yang merupakan system yang terdiri dari, leksikon, gramatikal, dan fonologi. Sebagai suatu system bahasa berada dalam konteks, hubungan diantara keduanya disebut pragmatic.
            Dalam mendeskripsikan bahasa sebagai fenomena yang memadukan bunyi dan makna secara tuntas tidak cukup diuraikan  ketiga subsistem bahas tersebut, melainkan harus pula diperikan prinsip-prinsip yang mendasarinya. Dalam pendekatan gramatika, khususnya sintaksis, bukan hanya diakui eratnya subsistem gramatika dengan subsitstem leksikon maupun subsistem fonologi, melainkan dipegang pula oleh tiga komponen gramatika yakni, struktur, kategori, damn fungsi. Gramatika  sebagai subsistem bahasa merupakan sebuah struktur yang terdiri dari 2 bagian yang saling berkaitan, yaitu morfologi dan sintaksis. Dalam pengungkapan bahasa antara ketiga subsistem itu terdapat urutan konkritisasi: yang paling abstarak adalah leksikon dan yang paling konkrit adalah fonologi.
            Dalam penyelidikan linguistic yang empiris data dalam semantic dapat diperoleh daro wujud yang konkrit, yakni bentuk, posisi, atau  pola dalam sintaksis. Walau pragmatic lebih konsrit dari pada sintaksis, namun pengetahuan kita mengenai struktur selama ini hanya diperoleh dari sintaksis.
Sintaksis suatu bahasa mempunyai unsure-unsur yang terorganisir secara structural. Salah satu satuan dalam sintaksis, yakni klausa, memiliki unsure yang berhubungan secara fungsional, yaitu subyek, predikat, objek, pelengkap dan keterangan.
            Pragmatic memberikan kesesuaian antara konteks dengan apa yang diujarkan dalam pengungkapan bahasa. Ujaran mempunyai unsure-unsur yang di sini disebut system informasi. Dalam ujaran satuan-satuan informasi memebntuk beberapa konfigurasi, tergantung dari pengungkapan bahasa. Konfigurasi yang ada adalah konfigurasi tema dan rema, konfigurasi focus dan latar, konfigurasi focus kontras dan penegasan.
            Fungsional adalah gerakan dalam linguistic yang berusaha menjelaskan fenomen bahasa dengan segala metafisisnya dan beranggapan bahwa mekanisme bahasa dijelaskan dengan konsekwensi yang ada kemudian dari mekanisme itu sendiri. Ujud bahasa sebagai system komunikasi tidak dapat dipisahkan dari tujuan berbahasa, sadar atau tidak sadar. Konsep utama dalam fungsionalisme ialah fungsi bahasa dan fungsi dalam bahasa. Menyangkut yang pertama. Sikap fungsionalistis diungkapkan dengan pendekatan berikut:
1)      Analisis bahasa mulai dari fungsi ke bentuk.
2)      Sudut pandang pembecara menjadi perspektif analisis.
3)      Deskripsi yang sistematis dan menyeluruh tentang hubungan antara fungsi ke bentuk.
4)      Pemahaman atas kemampuan komunikatif sebagai tujuan analisis bahasa.
5)      Perhatian yang cukup pada bidang interdisipliner, misalnya sosiolinguistik, dan pada penerapan linguistic bagi masalah-masalah praktis, misalnya pembinaan bahasa.
Funsionalisme menjiwai beberapa aliran linguistic, seperti aliran Praha, aliran Tagmemik, aliran Britania, teori M.A.K Halliday, teori Simon Dik, teori role-referen, dan teori daughter dependency. Pengaruh fungsiuoanlisme menyusup pada aliran transformasi generative, bukan hanya mengakibatkan bidah di dalam aliran itu sehingga timbul aliran seperti Cognitif Grammar dan relational Grammar, kemudian juga masuk kepada  teori transformative generative yang mutakhir.
Simon Dik dalam beberapa buku dan artikel karyanya sendiri maupun karya penganut teorinya memperinci relasi fungsional pada tiga tingkat yakni:
1)      Fungsi semantic
2)      Fungsi  sintaksis
3)      Fungsi pragmatis
Dalam hubungan dengan komponen makna dalam bahasa memperkenalkan tiga metafungsi, yaitu:
1)      Ideational function, yang merupakan manifestasi dari tujuan bahasa untuk memahami lingkungan.
2)      Interpersonal function, yang merupakan manifestasi dari tujuan bahasa untuk bertindak pada sesame penutur.
3)      Textual function, yang member relevansi kepada kedua metafungsi tersebut.
Dalam teori Dik ketiga lapisan fungsi itu dapat digambarkan sebagai berikut:
 B.      Pembahasan 2
Deskripsi  bahasa dapat mulai dan segi yang paling konkrit, yakni fonologi  kemudian ke gramatika dan leksikon. Dapat juga orang mulai dari segi yang paling abstrak, yakni Ieksikon, berlanjut ke gramatika. Cara pertama itu menghasilkan apa yang oleh hockett(1987) disebut grammar for the hearer, dan inilah yang biasa  dipergunakan kebanyakan ahli linguistik hingga kini. Cara  kedua yang  dipergunakan dalam makalah ini merupakan model  menggambarkan bagaimana penutur mernpersiapkan sebagian strategi, komunikasi yang mendasari tindak berbahasa  dilaksanakannya. (Jadi semacam “grammar for the speaker”) Sepanjang pengetahuan penulis, deskripsi seara demikian dapat memberikan gambaran yang utuh atau holistis atas  fenomen bahasa. Graimatika dapat diibaratkan sebuah bangunan yang mempunyai konstruksi  (baca: struktur) berupa kcrangka bangunan, dan yang mempunyai kategori berupa jenis apa bangunan jtu (misalnya rumah Panggung atau joglo), serta jelas untuk apa bangunan itu (misalnya tempat tinggal, kantor atau toko). Yang terakhir inilah fungsi bangunan itu. Namun semua itu belumlah berujud bangunan yang jadi, bila belum ada lantai, tembok, pintu dan atap.
C.      Pembahasan 3
            Marilah kita perikan  komponen STRUKTUR. Apa yang digambarkan strukstur gramatikal suatu bahasa?
Gramatikal adalah organisasi yang terdiri dari unsure-unsur dan  hubungan hubungan (relasi). Unsur yang sudah diteitukan satusnya disebut satuan gramatikal. Hubungan di antara unsur-unsur yang menjadi satuan-satuan itu diwujudkan dalam pelbagai manifestasi:
(1) opsisi yaitu: hubungan di antara 2 satuan atau lebih yang ‘ menampakkan
perbedaan, misalnya antara kala kini dan kala lampau dalam  sistem kala suatu bahasa.
(2) derivasi , yaitu hubungan di antara satuan yang sederhana dengan satuan yang lebih kompleks, misalnya di antara kiausa afirmatif’ dengan klausa interogatif atau di antara kalimat maejemuk tunggal.
(3) hubungan sintagmatis, yakni hubungan  linier  di antara unsure.  Karena satuan-satuan itu membentuk konstruksi, di antaranya nampak mana  konstituen akhir, maja konstituen langsung, dan  mana konstituen terbagi. Analisis konstituent (immediate  constituen analysis) menggambarkan hubungan in praesentia satuan-satuan gramatika.
(4) hubungan paradigmatic, yakni hubungan diantara satuan-satuan dengan segenap satuan lisan dalam perangkat alternative yang dimungkinkan dalam satu bahasa.
(5) urutan, yaitu letak unsure bahasa dalam deret sintagsmatik
(6) distribusi, yakni semua posisi yang taktertukarkan dan mungkin diduduki oleh satuan satuan.
(7) hirarki yakni susunan teratur satuan- satuan, mulai dari satuan yang terkecil sampai pada yang terbesar. Dalam gramatika terdapat satuan seperti kata, frase, klausa, kalimat, gugus kalimat, paragraph, gugus paragraph dan wacana.
(8) dependensi yakni hubungan di antara satuan-satuan yang tal setataran.
(9) keutuhan gramatikal yang membuat hubungan  tertentu di antara bebarap satuan-satuan. Keutuhan akan tanpak dengan adanya, kesesuaian, penguasaan,  rujuk silang.
Alat-alat yang digunakan untuk menyatakan keutuhan gramatikal ialah:
                                i.            Afiksasi, 
                              ii.            Kelekatan unsure-unsur
                            iii.            Cirri suprasegmental
                            iv.            fungtori
D.    Pembahasan  4
Tonggak ke dua dalam gramatika ialah kategori. Mengikuti Lyons (1968:274)  ada baiknya dibedakan kategori primer dan skunder. Dalam linguistic umum kelas kata sudah dibahasa  orang kurang lebih dari 2000 tahun. Dalam linguistic Indonesia sudah lebih dari 400 tahun.  Pertama-tama harus dijadikan pegangan bahwa dari sudut sintaksis adanya kelas-kelas tertentu dalam suatu bahasa  bersangkutan dengan keanggotaan sebuah kata dalam gatra tertentu.  Kedua, bagi kita perlu jelas criteria apa yang dipakai. Karena kata adalah satuan sintaksis, tidak ada jalan lain kecuali berpegang pada criteria sintaksis. Ketiga yang sering diabaikan adalah ketuntasan kategorisasi. Tidak cukup  kita mendaftar semua kelas kata yang ada dalam suatu bahasa dengan kriterianya. Keempat, yang lebih sering lagi diabaikan ialah cakupan bahasa yang menjadi data kategori bahasa. Teori kelas kata yang dihasilkan seyogyanya mencakup seluruh bahasa yang dijangkaunya, dengan segala ragam dan dialeknya.



BUKU RUJUKAN
Kridalaksana, Harimurti.2002. Struktur Kategori Dan Fungsi Dalam Teori Sintaksis. Jakarta: Universitas Atmajaya