Sabtu, 15 April 2017

INTEGRASI, PIDGIN, KREOL, DAN DIGLOSIA




A.    Integrasi Bahasa
Mackey (dalam Abdul Chaer:128) mendefinisikan integrasi sebagai masuknya unsur-unsur bahasa lain yang digunakan dalam bahasa tertentu dan dianggap sudah menjadi warga bahasa tersebut (tidak dianggap lagi sebagai unsur pinjaman atau pungutan).  Penerimaan unsur bahasa lain dalam bahasa tertentu membutuhkan waktu dan tahap yang cukup lama. Proses integrasi ini biasanya diawali ketika suatu bahasa tidak memiliki padanan kata yang ada di dalam bahasa lain tersebut atau bisa saja ada padanannya namun tidak diketahui. Keadaan itu akan berdampak pada proses peminjaman bahasa dari bahasa lain/bahasa asing. Apabila unsur pinjaman tersebut sudah bersifat umum atau bisa diterima dan dipergunakan oleh sebagian besar masyarakat maka barulah bahasa tersebut bisa dikatakan sudah terintegrasi dengan bahasa yang dimasukinya.
Proses pengintegrasian bahasa biasanya mengalami tahapan penyesuaian dengan bahasa yang dimasukinya. Bentuk penyesuaiannya dapat berupa perubahan fonem yang nantinya juga mengakibatkan perubahan bunyi sesuai dengan bunyi-bunyi atau jenis kata yang ada dan biasa diucapkan di dalam bahasa yang dimasukinya. Untuk bahasa Indonesia, bahasa asing yang integrasikan biasanya disesuaikan ejannya dengan Pedoman Umum Pembentukan Istilah dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan, contohnya kata research dalam bahasa Inggris yang diintegrasikan ke dalam bahasa Indonesia dan diubah menjadi kata riset.
B.     Pidgin
Pidgin merupakan sebuah bahasa yang tidak memiliki  penutur asli (native speaker). Pidgin berkembang sebagai alat komunikasi antara orang-orang yang tidak memiliki bahasa yang sama. Pada awalnya pidgin berkembang dalam fungsi yang sempit. Mereka yang menggunakan pidgin juga memiliki bahasa lain sehingga dapat dikatakan bahwa pidgin merupakan bahasa tambahan yang digunakan untuk tujuan tertentu seperti dalam perdagangan atau administrasi.
Pidgin diciptakan dari usaha orang-orang yang memiliki bahasa yang berbeda. Karena pidgin berkembang untuk melayani fungsi jangkauan yang sangat sempit dalam domain yang terbatas, pengguna bahasa pidgin ini cenderung untuk menyederhanakan struktur dan menggunkaan kosakata yang sedikit. Kata-katanya umumnya tidak memiliki infleksi (perubahan pada grammar atau ucapan) untuk menandai. Contohnya dalam bahasa Inggris, kata jamak atau waktu (tenses) kata kerja tidak digunakan.  Bahasa pidgin berkembang ketika dua penutur asli kelompok bahasa yang berbeda mencoba untuk membuat sarana komunikasi. Kosakata ini terutama berasal dari salah satu bahasa dan tidak memiliki seperangkat aturan tata bahasa stabil, terutama pada tahap awal pengembangan.
Penyederhanaan bahasa pidgin terlihat sekali pada aspek tatabahasa dan pelafalannya. Pidgin tidak memiliki gender tatabahasa pada sistem kata benda dan tidak memiliki akhir persetujuan kata benda-kata kerja. Waktu dan aspek diungkapkan dengan kata-kata yang terpisah daripada dengan akhiran. Pelafalan cenderung pada pola konsonan diikuti oleh vowel dan cluster (kelompok) lebih dari satu konsonan cenderung dihindari. Pidgin cenderung untuk mengurangi isyarat grammar. Hal ini memudahkan pembicaranya untuk belajar dan menggunakannya, walaupun hal ini memberi ‘beban lebih’ pada pendengarnya.  Pidgin bukanlah bahasa para kelas atas atau  bahasa yang bergengsi, dan bagi mereka yang tidak menggunakannya, bahasa ini terdengar menggelikan. Contohnya bahasa Tok Pisin (pidgin talk), sebuah pidgin Melanesia Inggris dari Papua New Guinea). Ada 3 ciri-ciri bahasa pidgin seperti di bawah ini.
1.      Digunakan dalam fungsi dan domain yang terbatas
2.      Memiliki struktur yang sederhana dibandingkan dengan bahasa sumbernya.
3.      Memiliki gengsi rendah dan menarik sikap negatif-khususnya dari orang luar.
Contoh Pidgin
Contoh bahasa Pidgin termasuk Nigeria, Russenorsk, sebuah pidgin Rusia dan Norwegia, dan Fanagalo, sebuah pidgin Afrika Selatan. Pidgin Hawaii telah berkembang menjadi apa yang banyak ahli bahasa menyebut sekarang sebagai Hawaii Creole bahasa Inggris, meskipun masih banyak pembicara menyebutnya sebagai Pidgin Hawaii.

C.       Kreol
Kreol adalah pidgin yang memiliki penutur asli (native-speaker). Banyak dari pidgin ini yang kemudian menjadi kreol. Bahasa ini digunakan oleh anak-anak sebagai bahasa pertama mereka dan digunakan dalam jangkauan domain yang luas. Salah satu contohnya adalah Tok Pisin yang telah digunakan sebagai bahasa pertama oleh sejumlah besar penutur dan telah berkembang sesuai dengan kebutuhan linguistik. Selain berkembang sebagai bahasa pertama, kreol juga berbeda dari pidgin dari segi fungsi dan strukturnya. Kreol merupakan pidgin yang telah mengalami perluasan dalam segi struktur dan kosakatanya untuk mengungkapkan makna atau fungsi yang serupa yang diperlukan oleh sebuah bahasa pertama. Kreol  muncul ketika bahasa pidgin menjadi bahasa ibu dari sebuah generaasi baru anak-anak. Misalnya ketika seorang pria dan seorang wanita yang memiliki bahasa yang berbeda menikah, keduanya tahu bahasa pidgin dan belajar bahasa pasangannya. Creole bahasa berkembang ketika bahasa pidgin menjadi bahasa asli bagi masyarakat dan anak-anak mulai belajar sebagai bahasa pertama mereka. Meskipun sebagian besar berasal dari kosa kata bahasa lain, telah mengembangkan set yang unik aturan tata bahasa. Contoh bahasa kreol termasuk Haitian Creole, bahasa berbasis Prancis; Jamaika Creole Inggris; Hawaii Creole Inggris; Angolar Portugis Creole, dan Bislama, bahasa Inggris berbasis nasional Vanuatu.
D.       Diglosia
      Diglosia merupakan istilah yang digunakan untuk mengklasifikasikan situasi komunikasi dalam masyarakat yang membuat penggunaan pelengkap pada pertukaran sehari-hari dari dua kode yang berbeda, baik dua variasi bahasa yang berbeda ataupun dua bahasa. situasi tertentu mengisyaratkan penggunaan salah satu kode tersebut, bahasa A pada pelarangan bahasa yang lain, bahasa B, yang mana hanya dapat digunakan dalam situasi dimana bahasa pertama dilarang.
Perlu ditekankan bahwa penggunaan yang lebih disukai dari istilah ini mengacu pada masyarakat dimana perbedaannya ditandai secara khusus dan sering di sokong dalam penggunaan variasinya (contohnya, bahasa standar/patois, Katharevusa/Demotic di Yunani dan Prancis/kreol di mayoritas area pembicaraan kreol Prancis). Umumnya, situasi diglosia ini merupakan situasi konflik bahasa dimana satu dari bahasa tersebut diistilahkan dengan variasi/ragam ‘tinggi’ bertentangan dengan yang lain yang dianggap ‘rendah’ yang mana yang pertama digunakan dalam situasi komunikasi  yang dianggap ‘ningrat’ (menulis, penggunaan formal, dan lain-lain) dan yang berikutnya digunakan dalam keadaan yang lebih informal (misalnya percakapan dengan keluarga dekat). Faktor-faktor yang mempengaruhi situasi diglosia menurut Sumarsono (2004: 199) antara lain partisipan, suasana, dan topik. (21.52)

Sastra Populer




A.     Pengertian Sastra Populer
Sastra populer adalah sastra yang populer pada masanya dan banyak pembacanya, khususnya pembaca di kalangan remaja. Sastra populer tidak menampilkan permasalahan kehidupan secara intens. Sebab jika demikian, sastra populer akan menjadi berat dan berubah menjadi sastra serius (Nurgiyantoro, 1998: 18).  Perkembangan sastra populer  sangat  gencar-gencarnya sejak tahun 70-an keatas.  Seiring  munculnya pengarang-pengarang baru dalam bidang karya sastra, seperti  Mira,W dan Habubirrahman El Shirazy kemudian yang terbaru seperti Ahmad Fuadi. 
Sastra populer umumnya bersifat artificial atau sementara. Walau dalam karya tersebut terdapat pemahaman berupa motivasi atau pelajaran, namun karya tersebut berlaku hanya semasa-semasa.  Sastra populer lebih banyak bertujuan untuk menghibur. Menurut  Kayam (1981:82) sastra  populer adalah semacam sastra yang dikategorikan sebagai  sastra hiburan dan komersial. Sastra populer lebih mengarah kepada kebutuhan selera pembacanya. Karya ini akan dilupakan setelah muncul karya baru yang lebih menarik sesudahnya.
Jenis sastra populer berbagai macam, dapat berupa tulisan berbentuk esai dan juga bisa berbentuk fiksi. Fiksi adalah karya rekaan yang dapat berbentuk novel atau juga film. yang dahulunya fiksi populer ini tidak menempati tempat yang penting dalam sejarah kesusastraan, baik di Indonesia maupun di dunia. Bahkan di Indonesia dulunya sastra populer ini apabila dalam bentuk novel, maka kemudian akan disebut sebagai novel picisan, istilah picisan ini sendiri berasal dari “uang picis” (satu sen). Sedangkan di Amerika sastra populer pernah disebut sebagai low-brow literature, kitch atau tulisan picisan, dan dime novels.
Dalam konteks Indonesia, bentuk sastra populer dapat diasumsikan sebagai kesusastraan Indonesia modern yang berkembang setelah Indonesia menerima kebudayaan Eropa modern yaitu abad ke-17 an, walaupun baru terasa abad ke-19 sejak terbitnya surat kabar berbahasa melayu yang di dalamnya memuat cerita bersambung yang ditulis dengan bahasa sehari-hari yang mudah difahami sehingga banyak dibaca banyak orang sesuai dengan orientasi sastra populer memenuhi kebutuhan dan keinginan pembaca.  
Banyak ahli yang mendefenisaikan sastra populer ini. Ida Rhocani Adi (2011:24) mendefenisikan sastra populer (populer literature) sebagai tulisan yang diterima oleh masyarakat banyak. Maksudnya diterima di sini adalah dikonsumsi banyak masyarakat yang dilihat dari jumlah penjualannya. Dalam kaitan ini populer berarti berhasil.
Selanjutnya Nurgiyantoro (1998: 18) menyatakan bahwa sastra populer adalah sastra yang populer pada masanya dan banyak pembacanya, khususnya pembaca di kalangan remaja. Sastra populer tidak menampilkan permasalahan kehidupan secara intens. Sebab jika demikian, sastra populer akan menjadi berat dan berubah menjadi sastra serius. Artinya sastra populer umumnya bersifat artificial atau sementara. Walau dalam karya tersebut terdapat pemahaman berupa motivasi atau pelajaran, namun karya tersebut berlaku hanya semasa-semasa. Sastra populer lebih banyak bertujuan untuk menghibur.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa sastra populer adalah sastra diterima oleh masyarakat banyak yang kemudian dikonsumsi banyak masyarakat yang dilihat dari jumlah penjualannya yang umumnya bersifat artificial atau sementara. Beberapa sastra populer nasional dan mancanegara yang mendapat perhatian dikalangan  masyarakat dapat kita contohkan adalah diantaranya  trilogi lakar pelangi, Harry Potter , salah satu karya sastra yang dapat menempati hati pembacanya dalam lintas Negara. Novel tersebut digandrungi oleh banyak kalangan terutama remaja.
Beberapa sastra mancanegara yang mendapat perhatian dikalangan  remaja dapat kita contohkan Harry Potter , salah satu karya sastra yang dapat menempati hati pembacanya dalam lintas Negara. Novel tersebut digandrungi oleh banyak kalangan terutama remaja. Berkembangnya sastra popular ini tak terlepas dari kondisi dan budaya massa, yang bertitik tolak paa aspek finansial.
B.     Hakikat  Sastra Populer
 Pada hakikatnya sastra populer merupakan karya sastra yang hadir semasa demi semasa. Sastra populer bersifat artifisial dan sementara. Kehadiran sastra populer hanya untuk memenuhi selera pembaca. Kita bisa melihat kehadiran sastra  zaman sekarang, seperti novel trilogi yang didalamnya terdapat beberapa motifasi, sebagai tambahan nilai untuk pembaca, tapi berotientasi pada finansial. Dibandingkan dengan sastra dari pengarang angkatan lama, yang mengungkapkan kondisi masyarakat, hakikat kehidupan, bahkan perjuangan, kisah percintaan, mereka tak mengutamakan nilai secara finansial.
Berikut ini adalah pendapat ahli sastra yang memberikan batas penggolongan ciri-ciri sastra populer  :
1.      Abraham Kaplar
Penggolongannya berdasarkan segi bentuk sastra populer memiliki bentuk,
·         Sederhana, artinya struktur pembangun ceritanya tidak rumit.
·         Pernyataan langsung,artinya tanpa kualifikasi, dengan jelas dipaparkan  secara langsung tidak bertele-tele.
·         Stereotype, artinya pola struktur mirip antara satu novel dengan novel lainnya.
·         Skematis, dalam artian struktur dan formula mudah diskemakan.
Penggolongan berdasarkan segi perasaan dalam sastra populer
·         Hiburan, artinya pembaca dibiarkan asyik dengan dirinya sendiri.
·         Sentimentil, artinya mengandung perasaan yang berlebihan.
2.      Budi Dharma
Ciri-ciri dari sastra populer atau yang disebutnya sebagai sastra hiburan adalah:
·         Tokohnya tampan, atau juga cantik jika perempuan, kaya.
·         Dicintai dan dikagumi.
·         Sanggup mengatasi segala macam masalah dengan mudah.
·         Pembaca dipancing untuk melakukan identifikasi diri seolah dirinya adalah tokoh itu sendiri.
3.      Jacob Sumarjo
·         Romantis sentimentil.
·          Judul sensasional.
·         Tema cinta/ rumah tangga.
·         Memiliki alur yang manis, lurus, dan penuh kejutan.
·         Dialog kontemporer.
·         Latar berupa keluarga, kampus, tempat hiburan dan lain-lain.
·         Perwatakan spektakuler dan explosive.
·         Happy ending/ sad ending yang cenderung tragis
Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas, maka dapat ditarik kesimpulan adapun ciri-ciri dari sastra populer adalah sebagai berikut :
1.      Tidak terlalu serius. Isi karya-karya sastra populer tidaklah terlalu serius seperti halnya karya sastra di era balai pustaka sebut saja Siti Nurbaya, Mencuri Anak Perawan, Tenggelamnya Kapal Var Der Wijk dan sebagainya. Salah satu jenis karya sastra populer yang tidak serius yakni teenlit yang berisi kisah-kisah percintaan remaja.
2.      Banyak dikritik. Untuk menaikkan popularitas sebuah karya sastra diperlukan banyak kritikan baik positif dan bahkan negatif karena hal ini akan memancing curiosity of public untuk membeli karya sastra tersebut.
3.      Komersial. Sastra populer cenderung dibuat untuk mendapatkan keuntungan dari penjualannya.
4.      Situational. Karya-karya sastra populer hanya terkenal sementara saja. Jika ada karya yang muncul setelahnya maka cenderung karya sastra sebelumnya itu akan tenggelam.
5.      Kontemporer. Kontemporer dalam sastra adalah perpaduan berbagai unsur gaya kepenulisan dalam sebuah karya sastra. Dalam hal ini karya sastra bisa berupa perpaduan unsur klasik dan unsur modern.
6.      Over fictional. Sastra populer saat ini dibuat dengan imajinasi yang sangat tinggi dan jauh dari kesan peristiwa-peristiwa yang lazim terjadi di dunia nyata sebut saja Harry Potter.












C.     Kebudayaan Massa
Kebudayaan dapat dikatakan sebagai suatu sistem dalam masyarakat yang menjadi tempat terjadinya interaksi antar individu/kelompok dengan individu/kelompok lain sehingga menimbulkan suatu pola tertentu, kemudian menjadi sebuah kesepakatan bersama (baik langsung ataupun tidak langsung), yang kemudian ada istilah dalam kebudayaan ini dengan sebutan kebudayaan massa atau budaya massa yang dalam bahasa inggris yaitu (mass culture).
Pengertian budaya massa budaya massa di Indonesia ini terlebih dahulu akan didekati secara teoritik. Apa itu budaya massa? Secara sederhana budaya massa (mass culture) serupa dengan budaya popular dalam basis penggunanya: Masyarakat kebanyakan. Namun, berbeda dengan budaya popular yang tumbuh dari masyarakat sendiri dan digunakan tanpa niatan profit, budaya massa diproduksi lewat teknik-teknik produksi massal industri. Budaya tersebut dipasarkan kepada massa (konsumen) secara komersial. Budaya ini kemudian dikenal pula sebagai budaya komersial yang menyingkirkan budaya-budaya lain yang tidak mampu mencetak uang seperti budaya elit (high culture), budaya rakyat (folk culture) dan budaya popular (popular culture) yang dianggap ketinggalan zaman. Jika budaya elit (high culture), folk culture, dan budaya popular tidak mampu mencetak uang, untuk apa ia dikembangkan dan dipelihara? Demikian retorika kasar para produsen mass culture.
Produsen budaya massa melihat para penerima budaya sebagai pasif, lembek, mudah dimanipulasi, mudah dieksploitasi, dan sentimentil. Bertindak selaku agen dari budaya massa ini media massa. Televisi, radio, majalah, surat kabar, dan internet menempati posisi penting selaku agen budaya. Sementara produsen dari budaya massa adalah para pemilik pabrik barang (pakaian, kosmetika, kendaraan) dan jasa (produser, penerbit, konsultan marketing, event organizer, manajer artis). 
Menurut Bennet dan Tumian, kebudayaan massa adalah, “ Seperangkat ide bersama dan pola Perilaku yang memintas garis sosio-ekonomi dan pengelompokan sub-kultural dalam suatu masyarakat yang kompleks”. Kemudian budaya massa adalah budaya popular yang menghasilkan industri produksi massa dan dipasarkan untuk mendapatkan keuntungan pada khalayak konsumen.
Kebudayaan Massa sebagai salah satu  kecendrungan dari  masyarakat  penikmat sebuah hasil karya sastra yang bermunculan dalam priode-priode tertentu.  Pada saat tahun  90-an, kalangan remaja cendrung dengan cerita bersambung Ko Ping Ho yang disadur oleh Asmaraman . Kemudian  cerita Harry Potter,  beberapa decade  digandrungi oleh pembaca.  Pada era sekarang tahun 2000-an, karya sastra anak bangsa juga banyak diminati, misalnya Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, selanjutnya  Ahmad Fuadi dengan novel  Negeri Lima Menara, Rantau Satu Muara, yang kemudian menjadi  trend bagi kalangannya remaja. Peminat novel ini dalam masyarakat pembaca sangatlah tinggi. Novel lain yang juga diminati adalah  novel Ayat-ayat Cinta Oleh  Habiburrahman El Shirazy dan Ketika Cinta bertasbih yang kesemuanya ini menduduki rangking teratas bagi  pembacanya.
Kebudayaan massa yang tumbuh dan berkembang drastis ini sekaligus menyebabkan pengkajian terhadap akar tradisi budaya dan juga pengkajian silang antarbudaya yang sungguh-sungguh dari para sastrawan dan cerpenis belum tergarap secara maksimal sebagaimana tampak pada hasil-hasil karya mereka.
Salah satu penyebabnya merebaknya kebudayaan massa ini adalah industri media cetak, elektronik maupun penerbitan. Dimana efek dari industri media cetak, elektronik maupun penerbitan adalah sedikit banyak akan mempengaruhi dunia kepengarangan. Ini bisa dilihat dari banyaknya lahir para pengarang, bahkan pengarang muda belia dengan berbagai karya sastra yang memperlihatkan ciri estetika tersendiri. Hal ini sesungguhnya dapat dipahami, karena Sesiapa pun dengan mudah dapat memublikasikan hasil karyanya dengan cara apa saja. Pengarang yang memiliki kapital bahkan bisa memodali penerbitan karyanya sendiri, tentu setelah melalui kalkulasi perhitungan bisnis. kemudian Dunia popularitas dan pencitraan juga  muncul sebagai efek samping dari dunia industri media cetak dan penerbitan tersebut.
Munculnya fenomena baru di dalam proses penciptaan, penerbitan, dan pemublikasian karya sastra Indonesia memunculkan pertanyaan lainnya, yaitu apakah masih penting dan relevan membicarakan aspek estetika karya secara dikotomi. Bagaimana menjelaskan fenomena tentang seorang siswa SMP, dengan uang tabungannya menerbitkan karya yang mereka tulis yang mereka sebut sebagai novel atau cerpen, dan kemudian karya mereka itu terbukti laris, laku, disukai, dan digemari oleh pembaca (seusia) nya. Mereka menulis apa yang mereka namakan cerpen dan novel itu menurut ukuran mereka sendiri.
Jadi, tidak ada lagi kepedulian dengan berbagai pakem dan aturan tentang apa yang sebut cerpen dan novel sebelumnya.  Apa yang mereka anggap menarik untuk ditulis mereka tulis dan apa yang mereka anggap tidak perlu ditulis mereka tinggalkan. Mereka begitu menikmatinya di dalam menghasilkan karya, menerbitkannya, hingga menikmati efek samping yang mereka peroleh dari kesemuanya itu, yaitu popularitas dan dunia pencitraan. Juga bagaimana sebaiknya juga harus menjelaskan fenomena “meledaknya” novel Laskar Pelangi  dan novel Ayat-Ayat Cinta di dalam kancah penerbitan.
Apalagi setelah novel-novel ini difilmkan dan ditonton oleh begitu banyak orang, bahkan oleh para pemimpin negara. Ketika para pembesar negeri ini menonton film-film itu, media massa memublikasikannya secara fantastis. Apakah dapat dijelaskan melalui suatu kajian teoretis bahwa kedua novel ini keunggulan estetikanya memang melebihi novel Keluarga Gerilya, novel Mereka yang Dilumpuhkan karya Pramudya Ananta Toer dan novel Olenka karya Budi Darma.
Situasi kebudayaan massa ini tampaknya ikut mempengaruhi sebagian besar sastrawan kita di dalam upaya menerbitkan karya-karya mereka. Hubungan antara sastrawan dan penerbit tidak sekadar urusan benefit, tetapi mungkin lebih pada aspek profit. Penerbit punya kekuatan untuk mengatur apa yang mungkin disebut sastra, baik persoalan jenis karya maupun dalam hal tematik dan stilistik.